ArtSubs dan Tantangan Membangun Ekosistem Seni Rupa Surabaya
SURABAYA — Penyelenggaraan ArtSubs di Surabaya tidak hanya memperlihatkan perkembangan pameran seni rupa, tetapi juga membuka persoalan lebih besar tentang kesiapan ekosistem seni di kota ini. Keterbatasan infrastruktur, tenaga profesional, tradisi kritik, hingga keberlanjutan pendanaan menjadi sejumlah tantangan yang dibahas dalam forum “Wicara Kurator” bersama Asmudjo J. Irianto dan Nirwan Dewanto, Minggu (27/9/2026).
Diskusi tersebut menempatkan ArtSubs sebagai salah satu upaya membangun medan seni rupa Surabaya. Setelah memasuki tahun ketiga, keberlangsungan acara menjadi salah satu persoalan penting yang perlu dipikirkan bersama, terutama agar pengembangan seni tidak terus bergantung pada inisiatif privat.
Nirwan Dewanto menjelaskan, Surabaya dipilih sebagai lokasi ArtSubs karena memiliki posisi sebagai kota metropolitan dengan sejarah panjang serta perkembangan lapisan sosial dan ekonomi baru.
Pertumbuhan ekonomi kota juga berjalan beriringan dengan munculnya jaringan kolektor seni. Kondisi tersebut menjadi salah satu modal bagi perkembangan pasar seni rupa di Surabaya.
Namun, potensi ekonomi tersebut belum sepenuhnya ditopang infrastruktur seni yang memadai. Surabaya masih menghadapi keterbatasan ruang pamer permanen, museum seni yang mapan, hingga tenaga profesional seperti art handler.
Menurut Nirwan, pengalaman Yogyakarta menunjukkan bahwa perkembangan ekosistem seni dapat melahirkan profesi pendukung yang semakin profesional dan bahkan mampu memasuki jaringan internasional.
Perbedaan karakter antara Surabaya dengan kota-kota seni seperti Yogyakarta, Bandung, dan Bali membuat ArtSubs membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif. Penyelenggara tidak dapat begitu saja menerapkan pola dari kota lain.
Asmudjo J. Irianto menilai pameran berskala besar seperti ArtSubs memiliki posisi penting untuk memperkenalkan potensi Surabaya sebagai salah satu kota yang memiliki banyak seniman berbakat.
ArtSubs juga membuka ruang bagi seniman dari berbagai latar. Proses kuratorial mempertimbangkan seniman yang telah mapan dan memiliki daya jual, sekaligus memberi kesempatan kepada seniman pendatang baru melalui mekanisme open call.
Di sisi lain, keterbatasan pasar seni rupa Surabaya membuat pilihan tersebut tidak selalu sederhana. Kurator harus mempertemukan pertimbangan artistik dengan kebutuhan untuk menghadirkan karya yang dapat diterima publik dan memiliki daya tarik pasar.

Bukan Sekadar Art Fair
Dalam diskusi, posisi ArtSubs sebagai pameran yang menggabungkan berbagai format juga menjadi perhatian. Nirwan menyebut ArtSubs sebagai proyek eksperimental yang mempertemukan karakter art fair, gallery fair, artist fair, dan biennale.
Asmudjo menyebut format tersebut sebagai bentuk hibridisasi antara artist fair dan biennale. ArtSubs berusaha mempertemukan eksperimentasi, tontonan visual, sekaligus transaksi komersial.
Format itu sekaligus menghadirkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara pasar dan wacana seni.
Sejumlah peserta diskusi mempertanyakan apakah orientasi art fair dapat membuat aspek wacana dan apresiasi karya menjadi kurang terlihat. Pertanyaan tersebut menunjukkan adanya harapan agar pameran tidak berhenti pada fungsi tontonan dan transaksi.
Nirwan menegaskan ArtSubs diarahkan melampaui fungsi komersial. Pameran diharapkan menjadi sarana pendidikan publik dan ruang perjumpaan masyarakat dengan karya seni.
Seni rupa juga dinilai memiliki fungsi yang berbeda dari sekadar komoditas. Setiap karya bersifat tunggal, tetapi perjumpaan masyarakat dengan karya dapat menghasilkan pengalaman estetik, wawasan, dan imajinasi yang berbeda pada setiap orang.
Asmudjo menambahkan bahwa karya seni kontemporer tidak selalu mudah diterima publik karena tidak semuanya tampil dalam bentuk yang secara langsung dianggap indah atau menarik. Karena itu, strategi display dan cara penyampaian narasi menjadi penting.
ArtSubs juga melibatkan lintas disiplin, termasuk arsitek, desainer, dan fotografer. Pelibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kemungkinan praktik seni sekaligus menghadirkan pengalaman pameran yang lebih beragam.

Fondasi Ekosistem dan Masa Depan ArtSubs
Persoalan keberlanjutan menjadi bagian penting dari pembicaraan. Asmudjo mengakui organisasi penyelenggara ArtSubs masih berada dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya mapan secara kelembagaan.
Beban finansial penyelenggaraan, menurutnya, juga tidak seharusnya terus-menerus ditanggung oleh satu pihak. Dibutuhkan dukungan eksternal dan kerja sama lintas sektor agar kegiatan seni dapat berkembang secara berkelanjutan.
Nirwan menyebut keberlangsungan hingga lima tahun ke depan sebagai salah satu tantangan utama ArtSubs.
Selain persoalan kelembagaan dan pendanaan, pengembangan ekosistem juga membutuhkan tradisi kritik seni. Asmudjo menilai kritik seni yang mendalam dan objektif masih menjadi salah satu aspek yang belum berjalan efektif dalam ekosistem kesenian Indonesia.
Karena itu, forum diskusi seperti “Wicara Kurator” dipandang penting sebagai ruang evaluasi. Forum tersebut tidak hanya membicarakan keberhasilan sebuah pameran, tetapi juga membuka kekurangan operasional dan konseptual yang masih perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, masa depan ArtSubs berkaitan dengan persoalan yang lebih luas daripada penyelenggaraan satu pameran. ArtSubs menjadi bagian dari upaya membangun jaringan antara seniman, kolektor, publik, profesi pendukung seni, dan berbagai pihak lain.
Keberlanjutan agenda tersebut membutuhkan fondasi organisasi yang kuat serta kerja sama lintas sektor. Dengan demikian, pengembangan seni rupa Surabaya tidak hanya bertumpu pada satu penyelenggara, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu menopang kehidupan seni dalam jangka panjang. (put)