Berita

Pameran Tunggal Tiga Pelukis

no-img
Pameran Tunggal Tiga Pelukis

teks: Gus Imm (kiri) dan Eddy Kuas (kanan)

SURABAYA: Meskipun Ganda Dagar, Eddy Kuas dan Djagad Ngadianto menggelar pameran lukisan bersama, namun sesungguhnya mereka sedang “Pameran Tunggal Bertiga”. Hal ini karena masing-masing pelukis menempatkan karya-karyanya di tiga ruang yang berbeda di Galeri Prabangkara Taman Budaya.  Pameran yang dibuka Gus Imm dari Kampus Cendekia Trowulan Mojokerto semalam (19/12), berlangsung hingga tanggal 23  Desember nanti.

Menurut A Juniarto Dn, ketua Komunitas Perupa Delta (Komperta) Sidoarjo, dimana ketiga pelukis ini bergabung,  meski anggotanya hanya 11 orang namun kali ini sengaja tidak melakukan pameran bersama sekaligus. Dengan cara  “memecah diri”, katanya, merupakan awal menuju pameran tunggal. Sehingga nantinya masing-masing pelukis tidak dikenal sebagai si A Komperta, tapi si A adalah pelukis. Titik.

Djagad Ngadianto

Selama ini selain acara melukis “on the spot” di kawasan situs purbakala, Komperta juga beberapa kali pameran bareng seperti di gedung Juang Sidoarjo, Shangrila Hotel Surabaya dan Museum  Mpu Tantular. Maka pameran “tunggal bertiga” seperti sekarang ini nantinya akan disusul oleh anggota Komperta lainnya.

Sementara itu, pelukis Djagad Ngadianto (43 tahun) yang menempati ruang bawah galeri Prabangkara menyajikan karya-karya yang beragam. Beberapa karyanya menyiratkan nuansa spiritualitas melalui  figur-figur bermeditasi, arca Budha ataupun figur Semar. Nampaknya pelukis yang tinggal di desa Kepuh Kiriman Waru ini juga ingin menunjukkan bahwa ketenangan adalah  modal utama dalam menghadapi berbagai problema kehidupan. Karena itu laku spiritual adalah jalan yang musti dilaluinya.

Sedangkan di lantai dua di salah satu ruangan, pelukis Ganda Dagar (33 tahun) seperti berangkat dari titik yang berbeda dengan Djagad. Pelukis kelahiran Sidoarjo yang kini bermukim di Bali itu menyajikan objek-objek pemandangan kota seperti gedung mangkrak, pertokoan Siola, pemandangan kota malam hari dan sebagainya. Namun apa yang kemudian nampak di karyanya bukan apa yang biasa dilihat orang kebanyakan melainkan ada suasana muram meski tetap kelihatan artistik. Mungkin Ganda seperti membawa pesan bahwa apa yang dihadirkannya itu bisa jadi tidak bakal lama lantaran digilas perkembangan kota. Toh goresan-goresannya terasa ekspresif dengan kemampuan sketsanya yang sudah melampaui standar.

Ganda Dahar

Eddy Kuas (42 tahun) lain lagi. Objek-objek lukisannya adalah benda-benda biasa yang diteropong dengan pandangan close up. Dengan cara pandang jarak dekat seperti itu maka sebuah gembok pintu bukan sekadar bisa memiliki makna denotatif sebagai pengunci tetapi menghadirkan konteks baru yang konotatif yaitu keep your heart (jagalah hatimu). Demikian pula ketika dia menghadirkan wujud pegangan pintu maka hadirlah konteks baru yang bisa apa saja tergantung yang memaknainya. Termasuk juga ketika dia melukis gagang warangka keris, lampu mobil, ujung sepeda motor dan sebagainya. Persoalan teks dan konteks ini bagi pelukis yang tinggal di Watutulis Prambon ini,  ditempatkan dalam suasana yang gemuruh dengan dominasi warna merah dalam garis-garis hitam yang rumit seakan memberi kesan bahwa dalam keramaian ada teks kecil yang perlu diperhatikan dengan seksama.

Begitulah ketiga pelukis ini berbicara dari sudut pandangnya sendiri yang menarik. Mereka sudah berhasil menghadirkan apa yang menjadi persoalan dalam lingkungannya, baik persoalan internal dari dalam dirinya sendiri maupun persoalan eksternal. Meski demikian, tentu saja karya-karya mereka tetap bermakna multi interpretable sehingga setiap orang berhak menafsirkan dengan cara pandangnya masing-masing. (hnr)

 

In category: Berita
Related Post
no-img
Skenografi, Scanner, dan Cara Baru Menciptakan Seni

SURABAYA: Apakah karya seni harus selalu diciptakan dari sesuatu yang benar...

no-img
Nirwan Dewanto: Seni Rupa Kontemporer adalah Medan Omnivora yang Melampaui Batas

SURABAYA – Seni rupa kontemporer merupakan medan yang bersifat omnivora a...

no-img
Surabaya Kaya Materi untuk Eksplorasi Seni

SURABAYA: Kota Surabaya ini sangat kaya dengan materi yang dapat dieksplora...

no-img
Andy Rahman: Arsitektur Dituntut Kurangi Eksploitasi Alam

SURABAYA – Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan dengan men...

no-img
ArtSubs dan Tantangan Membangun Ekosistem Seni Rupa Surabaya

SURABAYA — Penyelenggaraan ArtSubs di Surabaya tidak hanya memperlihatkan...

no-img
Dari GWK, Nyoman Nuarta Belajar Memperjuangkan Gagasan Besar

SURABAYA: Pengalaman panjang membangun Garuda Wisnu Kencana (GWK) mengajark...

  • 10,278
  • 2