KELANA PANJI, KELANA RAJA HAYAM WURUK

no-img
KELANA PANJI, KELANA RAJA HAYAM WURUK

Catatan Henri Nurcahyo

 

KETIKA Hayam Wuruk berkuasa pada 1350–1389 M, Raja Majapahit bergelar Sri Rajasanagara ini dikenal kerap melakukan perjalanan keluar dari pusat kerajaan. Perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan pribadi, melainkan bagian penting dari kehidupan politik, keagamaan, dan kebudayaan kerajaan. Salah satu rangkaian perjalanan itu dicatat cukup rinci oleh Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakretagama atau Desawarnana, yang ditulis pada 1365 M. Prapanca bahkan turut mendampingi sang raja dalam salah satu perjalanan, sehingga catatannya memberikan gambaran mengenai rute, tempat-tempat yang disinggahi, hingga berbagai kegiatan yang dilakukan selama perjalanan.[1]

Dalam kurun sekitar satu dasawarsa, Hayam Wuruk tercatat melakukan sejumlah perjalanan ke berbagai wilayah, antara lain Pajang, Lasem, Lodaya, Lamajang, Tirib-Sempur, Palah-Balitar, dan Simping. Salah satu perjalanan terpanjang berlangsung pada 1359, ketika rombongan raja bergerak ke wilayah timur hingga Lamajang. Rekonstruksi modern atas rute tersebut menunjukkan perjalanan yang sangat panjang, melintasi ratusan kilometer dan lebih dari 200 desa atau tempat yang disebut dalam Nagarakretagama.[2]

Pada titik inilah perjalanan Hayam Wuruk menarik jika dibaca berdampingan dengan kisah Panji. Salah satu substansi penting cerita Panji adalah pengelanaan. Tokoh-tokohnya bergerak dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan pusat kekuasaan, memasuki wilayah yang berbeda, menghadapi situasi dan tokoh baru, kemudian menemukan kembali hubungan, identitas, atau tatanan yang sempat tercerai. Pengelanaan dalam Panji bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan menjadi cara narasi mempertemukan kembali berbagai wilayah dan kelompok yang semula terpisah.

Tentu, perjalanan Hayam Wuruk tidak dapat begitu saja disebut sebagai “perjalanan Panji”. Keduanya lahir dari konteks yang berbeda. Namun, terdapat kesamaan struktural yang menarik: keduanya menempatkan perjalanan sebagai cara untuk menjangkau ruang-ruang di luar pusat. Jika dalam cerita Panji pengelanaan menjadi penggerak cerita, dalam pemerintahan Hayam Wuruk perjalanan dapat dibaca sebagai cara raja menghadirkan pusat kekuasaan di daerah-daerah yang jauh dari ibu kota.

Tujuan perjalanan Hayam Wuruk pun tidak tunggal. Selain mengunjungi tempat-tempat suci dan melakukan penghormatan kepada leluhur dinasti, perjalanan tersebut memiliki dimensi politik. Kehadiran raja secara langsung di wilayah-wilayah yang berada dalam jaringan kekuasaan Majapahit memperlihatkan hubungan antara pusat dan daerah. Dengan mendatangi wilayah yang jauh, bertemu para pemimpin setempat, serta menyaksikan kehidupan masyarakat dan lingkungan setempat, raja tidak hanya “melihat” wilayah kekuasaannya, tetapi juga memperbarui dan menegaskan jaringan politik kerajaan. Kajian mengenai perjalanan tersebut juga menempatkannya dalam konteks penguatan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah.

Dalam perspektif ini, sebagaimana disampaikan oleh M Dwi Cahyono, perjalanan Hayam Wuruk dapat ditempatkan berdampingan dengan salah satu gagasan besar dalam cerita Panji, yakni integrasi. Panji bergerak melintasi batas-batas kerajaan dan ruang budaya yang berbeda; perjalanan itu pada akhirnya mempertemukan kembali unsur-unsur yang terpisah. Demikian pula, perjalanan seorang raja ke berbagai wilayah dapat menjadi praktik simbolik untuk menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut berada dalam satu jaringan kekuasaan dan kebudayaan yang lebih luas.

Dengan demikian, kelana bukan sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kelana merupakan cara membangun hubungan antara pusat dan daerah, antara ruang yang terpisah dan yang hendak dipersatukan. Dalam cerita Panji, proses itu hadir sebagai perjalanan tokoh dan pencarian; dalam sejarah Majapahit, ia dapat dilihat dalam perjalanan seorang raja yang secara langsung menjangkau wilayah-wilayah di luar pusat kerajaan.

Hayam Wuruk dan Topeng Panji

Ada pula anggapan bahwa dalam perjalanan tersebut Hayam Wuruk ikut menari topeng, atau raket, dengan lakon Panji. Namun M Dwi Cahyono meragukan klaim ini. Nagarakretagama memang mencatat adanya pertunjukan seni dalam perjalanan raja, termasuk pertunjukan wayang, tari topeng, dan tayub. Namun, adanya pertunjukan topeng tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Hayam Wuruk sendiri menari topeng Panji.[3]

Apalagi perjalanan tersebut merupakan perjalanan seorang raja bersama rombongan besar, sehingga dimensi kenegaraan dan kewibawaan tentu menjadi penting. Lebih masuk akal apabila pertunjukan seni dipahami sebagai bagian dari penyambutan, hiburan, atau perhelatan yang menyertai perjalanan sang raja, bukan sebagai bukti bahwa raja turut memainkan pertunjukan tersebut.

Hal ini berbeda dengan acara-acara hiburan di lingkungan istana yang memungkinkan pejabat atau bangsawan ikut terlibat dalam permainan dan pertunjukan. Dalam perkembangan kesenian Jawa yang lebih kemudian, kita mengenal fenomena serupa dalam ketoprak atau ludruk: tokoh-tokoh penting dan pejabat setempat dapat tampil atau terlibat dalam permainan karena konteksnya adalah hiburan semata.

Dengan demikian, tidak perlu buru-buru menjadikan Hayam Wuruk sebagai pemain Panji. Yang lebih menarik justru hubungan yang lebih luas antara raja, perjalanan, pertunjukan, dan kebudayaan Panji. Pada masa Majapahit, perjalanan raja dan pertunjukan seni sama-sama menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan sekaligus sarana membangun dan merawat hubungan sosial-politik antara pusat kerajaan dan wilayah-wilayah dalam jaringannya.

Dari Mpu Prapanca ke Hadi Sidomulyo

Menariknya, perjalanan Hayam Wuruk kemudian melahirkan perjalanan lain berabad-abad sesudahnya. Seorang budayawan dan peneliti berkebangsaan Inggris, Hadi Sidomulyo, yang bernama asli Nigel Bullough, melakukan penelusuran panjang terhadap jejak perjalanan Hayam Wuruk sebagaimana dicatat Mpu Prapanca. Ia menelusuri desa-desa dan tempat-tempat yang disebut dalam Nagarakretagama, mencoba mencocokkannya dengan lanskap geografis dan nama-nama wilayah yang dikenal sekarang. Hasil penelusuran tersebut kemudian disusun dalam buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca, yang terbit pada 2007.[4]

Penelusuran itu bukan pekerjaan sederhana. Pada dasarnya, Hadi Sidomulyo berusaha membaca kembali peta Jawa Timur melalui sebuah teks abad ke-14. Nama-nama tempat yang bagi pembaca modern terdengar asing dicari padanannya di lapangan. Sebagian masih dapat dikenali, sebagian telah berubah nama atau status administratif, sementara sebagian lainnya sulit dilacak dan bahkan ada yang sudah hilang. Melalui penelitian lapangan tersebut, Hadi Sidomulyo berusaha menghubungkan teks kuno dengan jejak geografis yang masih tersisa, sehingga perjalanan Hayam Wuruk tidak berhenti sebagai cerita dalam naskah, tetapi dapat dibaca kembali melalui ruang-ruang yang pernah dilaluinya.[5]

Di sini muncul sebuah ironi yang menarik: Mpu Prapanca mengikuti kelana Hayam Wuruk dan mengabadikannya dalam teks; berabad-abad kemudian Hadi Sidomulyo mengikuti kembali jejak yang ditinggalkan Prapanca. Jika kelana Hayam Wuruk merupakan perjalanan seorang raja menjangkau wilayah kekuasaannya, kelana Prapanca adalah perjalanan seorang pujangga merekam peristiwa tersebut, sedangkan kelana Hadi Sidomulyo menjadi upaya seorang peneliti modern untuk menemukan kembali jejak yang telah berjarak ratusan tahun.

Dari kelana seorang raja, lahir kelana seorang pujangga; dari kelana sang pujangga, lahir pula kelana seorang peneliti. Tiga perjalanan yang berbeda zaman itu bertemu pada satu hal: usaha memahami Jawa melalui gerak manusia melintasi ruang.

Karena itu, perjalanan Hayam Wuruk tidak harus dipandang hanya sebagai catatan geografis atau daftar tempat yang pernah dikunjungi seorang raja. Ia dapat dibaca sebagai narasi tentang hubungan, jaringan, dan integrasi wilayah. Ketika diletakkan dalam konteks Panji, pengelanaan memperoleh makna yang lebih luas: perjalanan menjadi cara untuk menembus batas, menemukan kembali hubungan yang tercerai, dan menghubungkan pusat dengan berbagai ruang di luarnya.

Nagarakretagama merekam jejak kelana itu; Panji mengolah pengelanaan menjadi mitos dan cerita; sementara Hadi Sidomulyo, berabad-abad kemudian, mencoba menemukan kembali jejak tersebut di lanskap Jawa Timur.[6]

Pada akhirnya, kelana adalah sebuah cara untuk memahami hubungan antara manusia, ruang, dan kekuasaan. Panji mengisahkan pengelanaan sebagai upaya menemukan kembali sesuatu yang hilang sekaligus mempertemukan ruang-ruang yang terpisah. Hayam Wuruk menjalani kelana dalam dunia nyata, menjangkau wilayah-wilayah di luar pusat Majapahit dan mempertautkannya dalam jaringan kerajaan. Sementara Hadi Sidomulyo, berabad-abad kemudian, melakukan kelana kembali untuk menemukan jejak perjalanan tersebut melalui nama-nama tempat yang ditinggalkan Prapanca.

Ketiganya memang berada dalam zaman dan konteks berbeda, tetapi bertemu dalam satu gagasan: perjalanan bukan sekadar perpindahan, melainkan proses menghubungkan kembali yang terpisah—ruang dengan ruang, masa lalu dengan masa kini, dan ingatan dengan kenyataan. Mungkin itulah makna terdalam sebuah kelana: kita pergi bukan semata-mata untuk tiba di tempat lain, melainkan untuk menemukan kembali hubungan yang membuat kita tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita hendak melangkah.

Untuk membahas topik ini lebih jauh, silakan bergabung dalam Webinar Budaya Panji dengan topik KELANA PANJI RAJA HAWAM WURUK, Jumat malam, pukul 19.00 – 21.00 WIB, lewat tautan:

Join Zoom Meeting

https://us06web.zoom.us/j/2023821107?pwd=GHokyplJojAO61FQNm9qOCTbbLyIGX.1&omn=88026427247

 

Meeting ID: 202 382 1107

Passcode: PANJI

 

  1. https://www.historia.id/article/perjalanan-ziarah-raja-majapahit
  2. https://www.scribd.com/document/1024029142/Naskah-Nagarakertagama-Jalur-Wisata-Sejarah-Jawa-Timur
  3. https://www.researchgate.net/publication/338929162_Nagarakertagama_Manuscript_As_Historical_Route_in_East_Java_Tourism_Development, percakapan dengan M Dwi Cahyono
  4. https://www.kompas.id/artikel/jalan-lain-merawat-kesedihan?utm_source=chatgpt.com, diakses tanggal 15 Oktober 2026
  5. opcit
  6. https://www.scribd.com/document/1024029142/Naskah-Nagarakertagama-Jalur-Wisata-Sejarah-Jawa-Timur

 

 

In category:
Related Post
no-img
KELANA PANJI, KELANA RAJA HAYAM WURUK

Catatan Henri Nurcahyo   KETIKA Hayam Wuruk berkuasa pada 1350–1389 ...

no-img
MITOS DAN HAKIKAT PANJI SEPUH

KONON, sebelum dinobatkan, seorang calon raja Jawa (Solo) mesti menari deng...

no-img
Cerita Panji di Candi Mirigambar Tulungagung

Situs candi Miri Gambar terletak di RT. 01 RW. 04, dusun Gambar, desa Miri ...

no-img
Tulungagung Dominasi Kejuaraan Lomba Cerita Panji

MALANG: Sanggar seni dari Tulungagung mendominasi kejuaraan Lomba Pertunjuk...

no-img
Pertunjukan Multi Media Wayang Gedog Madura

Catatan Henri Nurcahyo   WAYANG GEDOG pernah ada di Madura namun sudah...

no-img
BOARD GAME CERITA PANJI AGAR DITERIMA ANAK MUDA

Board game adalah permainan papan, misalnya Monopoli, Scrabble, Chess, Che...

  • 10,321
  • 18