MITOS DAN HAKIKAT PANJI SEPUH
KONON, sebelum dinobatkan, seorang calon raja Jawa (Solo) mesti menari dengan mengenakan topeng “Panji Sepuh” di kamar pusaka keraton: sendiri tanpa iringan. Tak jelas kapan ritual ini mulai ada dan apakah dilakukan juga oleh Sunan Solo terakhir. Siapakah tokoh Panji Sepuh yang dikeramatkan itu? Hanya sebuah khayal? Atau diakah “pendekar kebudayaan” Jawa seperti yang ditafsirkan W.H. Rassers?

Dalam tradisi Jawa, “sepuh” berarti tua, leluhur, pendahulu, atau yang dituakan. Maka “Panji Sepuh” bisa dibaca sebagai: Panji yang telah mencapai kematangan batin. Ia bukan pangeran muda yang sedang mencari kekasih seperti Panji Asmarabangun, melainkan Panji yang telah melewati perjalanan hidup dan siap menerima tanggung jawab tertinggi.
Sulistyo Tirtokusumo, yang disebut Bambang Bujono sebagai penari alusan, satu dari sedikit penari alusan Solo yang mencapai kesatuan keterampilan dan rasa, pernah membawakan repertoar tari Panji Sepuh ini sejak tahun 1993 di Studio Oncor, Jakarta. Lalu di Yogya. Kemudian melawat ke Australia dan Korea Selatan, serta Singapura. Penari-penari utamanya adalah Elly D. Luthan, Restu Imansari Kusumaningrum, Maria D. Hoetomo, Sukardji Sriman, dan Wiwiek Sipala. Musik yang ditata Toni Prabowo mengiringi narasi dan tembang yang liriknya ditulis penyair Goenawan Mohammad.
Untuk pertunjukan di Singapura, Goenawan ”merekrut” Teguh Ostenrik, pelukis dan pematung, sebagai direktur artistik. Bertiga—Goenawan, Tony, Teguh—kemudian berbagi gagasan untuk memasukkan elemen-elemen dan idiom-idiom berbeda terhadap koreografi ini. Ketika mereka bertanya kepada Sulistyo, penari kawakan itu menjawab, ”Lakukanlah apa saja.”
Itu sebabnya Panji Sepuh ”edisi” Singapura ini tak lagi bersetia pada pakem seorang putra mahkota dan ambisi-ambisi keremajaannya. Ia memang masih menyiratkan kerentanan raga dan sukma terhadap ketakutan, amarah, dan rasa sakit. Tapi pada adegan menjelang penutup, ketika orang tua berselimut jarit itu (dimainkan sendiri oleh Sulistyo) melepas anak panahnya yang maya, justru tersisa sebuah pertanyaan: adakah ini sebuah akhir, atau justru awal yang mula.
Kritikus seni Bambang Bujono menulis, Panji Sepuh bukan tokoh yang hidup dan punya sejarah. Konon, inilah mitos yang hanya diketahui oleh beberapa kerabat Keraton Kasunanan Surakarta. Nama itu pun sebenarnya tidak ada, sekadar ciptaan Sulistyo untuk menyebut mitos itu.
Dan mitos itu, menurut Tumenggung Kusumo Kesowo, kerabat keraton dan budayawan keraton, adalah tentang tari yang dilakukan oleh calon raja menjelang ia dinobatkan. Itu dilakukan di tempat tertutup, sendiri, tak seorang pun boleh melihatnya, tanpa gamelan. Dan kata Pak Menggung pada Sulistyo, muridnya, itulah sajatining beksa, tari yang sebenarnya.
Dan, meskipun tarian ini diilhami sebuah kisah dari Keraton Kasunanan Solo, menurut catatan Seno Joko Suyono, karya Sulistyo justru kebalikannya. Ini sebuah potret bagi pemimpin sepuh yang harus berani meninggalkan gemerlap, berani kembali menjadi manusia biasa, yang tak bernama. Dan berani menjalani kodrat sangkan paraning dumadi, asal-usul tujuan kehidupan. Dan “luruhnya hasrat berkuasa” itu dilambangkan dengan: puncak erotisme adalah maut.

Bukan Tokoh Sejarah
Yang menarik, hingga kini belum ditemukan bukti sejarah tertulis yang menyebut adanya tokoh historis bernama Panji Sepuh. Tidak muncul dalam silsilah raja-raja Jawa, tidak dikenal sebagai tokoh utama siklus cerita Panji, dan tidak tercatat dalam kajian Panji yang lazim dirujuk para akademisi. Yang ada justru adalah sebuah figur simbolik yang hidup dalam tradisi keraton dan kemudian ditafsirkan ulang oleh Sulistyo.
Panji Sepuh mungkin leluhur simbolik raja Jawa. Dalam kosmologi Jawa, calon raja tidak hanya mewarisi kekuasaan politik, tetapi juga menyambung mata rantai leluhur. Menari dengan topeng Panji Sepuh dapat dipahami sebagai proses menyatukan diri dengan sosok leluhur ideal yang menjadi sumber legitimasi batin. Di sini Panji Sepuh bukan tokoh sejarah, melainkan figur sakral yang berfungsi seperti “nenek moyang budaya”.
Sebagaimana disebut W.H. Rassers, ia memang melihat Panji bukan sekadar tokoh cerita cinta, melainkan figur budaya yang sangat tua, bahkan jejak mitologis yang mendahului bentuk-bentuk sastra Panji yang kita kenal sekarang. Jika mengikuti jalur pemikiran Rassers, maka Panji Sepuh dapat ditafsirkan sebagai: Panji purba, Panji asal, figur kebudayaan yang berdiri di belakang seluruh tradisi Panji. Bukan individu historis, melainkan sumber simbolik. Panji Sepuh sebagai tokoh liminal: berada di antara sejarah, mitologi, dan ritus keraton.
Ia mungkin tidak pernah hidup sebagai manusia yang dapat dibuktikan secara historis. Tetapi dalam tradisi Jawa, keberadaan simbolik sering kali lebih penting daripada keberadaan historis. Panji Sepuh berfungsi sebagai cermin tempat calon raja berhadapan dengan dirinya sendiri sebelum menerima wahyu keprabon.
Karena itu pertanyaan “siapa Panji Sepuh?” mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk dijawab secara biografis. Dalam logika Jawa, Panji Sepuh lebih dekat kepada pertanyaan: “Menjadi manusia seperti apakah seseorang sebelum ia layak menjadi raja?”
Itulah sebabnya Sulistyo menafsirkan Panji Sepuh sebagai dialog dengan masa silam dan masa depan, bukan sebagai kisah seorang tokoh tertentu.
Bagi kajian Budaya Panji, ini justru membuka kemungkinan yang menarik: Panji Sepuh mungkin merupakan mata rantai yang menghubungkan Panji sastra, Panji ritual, dan konsep kepemimpinan Jawa. Belum banyak peneliti yang menggarap jalur ini secara khusus. (henri nurcahyo)
Ikuti perbincangannya dalam webinar:
Komunitas BrangWetan is inviting you to a scheduled Zoom meeting.
MITOS DAN HAKIKAT PANJI SEPUH
*Jumat, 26 Juni 2026*
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Join Zoom Meeting
https://us06web.zoom.us/j/2023821107?pwd=GHokyplJojAO61FQNm9qOCTbbLyIGX.1&omn=86311209135
Meeting ID: 202 382 1107 – Passcode: PANJI
Atau, simak rekamannya ada di: https://www.youtube.com/@tvpanji2672