Opera Anti Pelecehan Seksual 

no-img
Opera Anti Pelecehan Seksual 

Catatan Henri Nurcahyo

 

INI bukan sekadar opera biasa tetapi sebuah pertunjukan yang digelar dengan misi mencegah terjadinya pelecehan seksual dan perundungan (bullying). Judulnya adalah “Si Kuning Miss Universe Negeri Jenggala” yang merupakan adaptasi dari dongeng dalam Cerita Panji yaitu “Ande-ande Lumut”. Produksi ke-4 Raff Dance Company Indonesia ini digelar di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Surabaya, Sabtu malam (07/01/23).

Dikisahkan ada seorang gadis bernama Si Kuning (Dewi Oktalaily) tersesat di hutan. Kemudian ditolong oleh perempuan bernama Tante Dadap (Adinda Novia)  dan mengangkatnya sebagai anak. Maka Si Kuning memiliki saudara baru anak-anak kandung Tante Dadap yaitu Si Merah, Si Hijau, dan Si Biru. Namun Si Kuning diperlakukan semena-mena oleh ketiga gadis itu. Dilecehkan, dirundung, dihina, dan semacamnya. Mereka merasa Si Kuning tidak layak menjadi saudaranya karena mukanya yang jelek, berbau busuk, dan berpakaian tak layak.

Suatu ketika ada pengumuman Pemilihan Miss Universe di Negeri Jenggala, sebuah negeri yang untuk menuju ke sana harus menyeberangi sungai besar. Si Merah (Adibah Larasati), Hijau (Sabrina Aulia Septia), dan Biru (Callysta Amanda), dengan aman mampu menyeberang sungai dengan bantuan Mr Kangkang yang meminta imbalan tertentu. Toh ketiga gadis itu tidak menolak dilecehkan asal maksudnya tercapai. Hanya Si Kuning yang menolak memberikan imbalan dalam bentuk pelecehan. Dia melemparkan cermin ajaib pemberian seorang kakek sakti (Agustinus HS) sehingga sungai seketika kering dan Si Kuning dengan mudah menyeberang.

Tibalah saat audisi, hanya Si Kuning yang berhasil lolos karena mampu mempertahankan diri dan melawan pelecehan seksual yang dilakukan Mr. Kangkang (Rizkyo N Diwa Murni). Maka Si Kuning yang dinilai memiliki etika yang baik dinobatkan menjadi Putri Mahkota Jenggala dengan gelar Candrakirana.

Dalam cerita aslinya, Si Kuning (yang biasanya disebut Kleting Kuning) adalah Dewi Sekartaji yang menyamar. Para Kleting itu berlomba melamar jejaka bernama Ande-ande Lumut. Akhirnya Kleting Kuning terpilih menjadi pemenang karena sejatinya Ande-ande Lumut adalah Raden Panji Asmarabangun yang menyamar. Maka bersatulah sepasang kekasih yang lama terpisah itu. Tetapi dalam opera ini akhir ceritanya sedikit dipotong, hanya sampai pada kemenangan Si Kuning. Ada tokoh Panji Sultan di sini (Vernanda P Febrian), tapi hanya sebagai juri bukan Panji Inukertapati sebagaimana dalam cerita Ande-ande Lumut.

Arif Rofiq selaku penulis naskah dan sutradara telah melakukan modifikasi kreatif terhadap Cerita Panji, khususnya Dongeng Ande-ande Lumut yang selama ini hanya ditampilkan apa adanya. Sangat membosankan, seolah-olah Cerita Panji adalah karya yang terikat pakem ketat dan tak boleh digubah. Kali ini Rofik lebih menekankan aspek terjadinya perundungan yang dilakukan oleh anak-anak Mbok Rondo Dadapan dan pelecehan seksual oleh Mr Jack alias Yuyu Kangkang. Isu ini dijadikan materi tersendiri dengan penayangan slides di background panggung, dan para penari juga membentangkan poster-poster dalam unjuk rasa. Bahkan di sisi panggung dihadirkan dua orang narasumber dari Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan (KPS2K) yaitu Iva Hasanah dan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur (Restu Novi Widiani) dalam sebuah talkshow singkat untuk memberikan sosialisasi bagaimana mencegah dan mengatasi perundingan dan pelecehan seksual. Adegan sisipan ini sangat menarik sehingga misi utama pertunjukan dapat tersampaikan secara gamblang, mudah dipahami, tidak hanya tersirat dalam adegan di atas panggung.

Tidak Mencetak Penari

Raff Dance Company Indonesia (Raff DC) adalah sebuah sanggar tari yang berdiri sejak tahun 1994. Jika sekarang ini baru produksi ke-4 itu tentu sangat tidak sebanding dengan usianya. Karena pada mulanya Rofik lebih sibuk berkarya tari kontemporer dengan menggunakan pijakan tradisi namun kemudian mengalir sesuai dengan kesibukan dan kemampuan ketenagaan di sanggar. Karya-karya berbasis Jawatimuran menjadi prinsipnya untuk mengimbangi tarian Bali atau gaya Jawa Tengah.

Kemudian Raff DC sempat membuat Studio Alam yang diilhami dari kunjungan ke Padepokan Bagong Kussudiardjo di Yogyakarta. Tanpa terasa banyak anak-anak yang belajar di Raff DC dan Rofik lantas produktif menciptakan tarian anak, disertai oleh Agustinus HS yang juga menjadi salah satu pendiri sanggar ini. Dalam perkembangannya Studio Alam tidak berlanjut dan kini memiliki tempat latihan di Taman Budaya Jatim (studio satu) City of Tomorrow Mall (studio dua), dan workshop di rumah Rofik sendiri yaitu di Taman Surya Agung Sidoarjo.

Raff DC banyak menyelenggarakan pelatihan untuk guru-guru tari untuk menyosialisasikan karya-karya yang diciptakannya sehingga dengan mudah dipelajari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Maka sejak tahun 1990-an Raff DC banyak melahirkan album tarian untuk remaja dan anak-anak. Satu hal yang menjadi pegangannya, bahwa Raff DC lebih banyak mendidik anak-anak dan remaja untuk menghargai seni tari. “Kalau toh kemudian ada yang menjadi penari itu hanya akibat dari ketekunan berlatih menari,” kata Rofik.

Sebagai sebuah sanggar tari yang memiliki banyak sekali murid maka pementasan ini adalah sebuah apresiasi tersendiri bagi mereka. Rofik sebagai sutradara dan sekaligus pimpinan sanggar harus bisa mengatur sedemikian rupa agar semua muridnya mendapat kesempatan naik ke atas panggung atau peran tertentu. Tanpa kecuali. Karena itu sekian banyak anak-anak kecil itu lantas dibagi perkelompok untuk membawakan beberapa tarian misalnya Tari Lebah, Tari Kelinci, Tari Angsa, Tari Bunga Setaman, Tari Demond, Tari Bidadari, dan Tari Kluwung Emas. Belum lagi yang mendapat peran sebagai pemusik, penyanyi dan pengisi suara. Bahkan Agustinus Heri Sugiarto yang masih mengalami kendala kesehatan bisa tampil di atas panggung sebagai tokoh Kakek Sakti dalam bentuk dialog rekaman audio visual yang ditayangkan di layar back ground yang  sangat luas. Jadi, semua pasti kebagian demi menyenangkan semua orang.

Alhasil, pertunjukan opera ini sangat berarti bagi anak-anak murid sanggar (termasuk orangtuanya) yang merasa mendapatkan apresiasi atau reward yang membanggakan serta dorongan spirit untuk terus berlatih dan berkarya. Meski demikian toh pertunjukan ini tidak digarap asal-asalan. Perlu persiapan yang sangat lama untuk menghadirkan karya ini setelah produksi ketiga “Sawunggaling Punya Cita-cita” (2013), “Bawang Merah Bawang Putih” (2006), dan “Kancil Mencuri Timun” (2000). Sementara di sela-sela kesibukan latihan, proses di balik layar opera ini sempat dijadikan karya video blog (Vlog) dan berhasil meraih salah satu pemenang dalam Lomba Vlog Cerita Panji yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek RI tahun 2022. (*)

Foto-foto Dokumentasi Raff DC

In category:
Related Post
no-img
CERITA PANJI DARI BANYUWANGI

Cerita Panji yang sering muncul di Banyuwangi dalam pertunjukan seni drama ...

no-img
Topeng Dalang Klaten, Pelakunya Dalang Semua

TOPENG Dalang Klaten adalah seni pertunjukan tradisional yang juga membawak...

no-img
Wangi Indriya dan Toto Amsar Suanda Berbagi Cerita

Cerita Panji juga tumbuh kembang di tanah Sunda, tidak terkecuali di Indram...

no-img
Mengajarkan Gamelan Sebagai Tradisi Lisan

Bagian kedua: Diplomasi Panji Mengenalkan Budaya Indonesia di Prancis Hari ...

no-img
Diplomasi Panji Mengenalkan Budaya Indonesia di Prancis

Kadek dan Christophe tanpa lelah menjadi duta kebudayaan Indonesia di Pranc...

no-img
Kabar Cerita Panji dari Prancis

Diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan bekerjasama dengan As...