ArtikelPenerbitanTerkini

Dalam Budaya Nusantara Sudah Dikenal Adanya Kesetaraan Gender

no-img
Dalam Budaya Nusantara Sudah Dikenal Adanya Kesetaraan Gender

GENDER adalah perbedaan peran dan fungsi laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat di pelbagai sektor kehidupan. Gender merujuk pada suatu pandangan kebudayaan sosial masyarakat, yang membuat kehidupan perempuan dan laki-laki dibedakan, dan membuat pengalaman kehidupan dibedakan. Gender adalah istilah yang ingin menerangkan bahwa ada faktor-faktor di luar eksistensi manusia yang memengaruhi kehidupan laki-laki dan perempuan.

Selama ini ada anggapan bahwa persoalan gender dikaitkan dengan feminisme yang kemudian diklaim sebagai gagasan yang berasal dari Barat. Padahal dalam budaya nusantara sudah dikenal adanya kesetaraan gender. Salah satu contohnya, RA Kartini adalah sosok pejuang kesetaraan gender meski dia sendiri ternyata tidak mampu mengelak dari nasib yang membelenggunya.

Selain itu, deretan perempuan hebat lain dalam sejarah nusantara seperti Ratu Shima, Mahendradata, Ken Dedes, Gayatri Rajapadmi, Tribhuana Tunggadewi, Rainha Bokiraja, Laksamana Malahayati, Nyi Ageng Serang, Maria Walanda Maramis, dan banyak lagi. Bahkan perempuan-perempuan Jawa, yang sering dianggap hanya menjadi kanca wingking, ternyata (pernah) dikenal sebagai perempuan-perempuan perkasa.

Sementara dalam dunia sastra dan budaya ada nama-nama Dewi Durga, Srikandi, Dewi Kunti, Candra Kirana, Dewi Sita, Proboretno, dan lain-lain.

Sementara itu, apa yang selama ini diperingati dengan Hari Ibu, seringkali dimaknai seperti Mother’s Day dalam budaya Barat. Padahal Hari Ibu adalah sebuah penanda untuk memperingati kebangkitan organisasi kaum perempuan. Hari Ibu bukan dalam pemaknaan Mother’s Day melainkan sebagai sebuah peringatan atas kebangkitan kaum perempuan yang ditandai dengan penyelenggaraan Kongres Perempuan tahun 1928 di Yogyakarta.

Dalam buku ini terdapat 4 (empat) artikel yaitu:

  1. Dr. Antarini Arna, Doktor ilmu fisafat Universitas Indonesia, dengan materi presentasi: “Perspektif Gender dalam Narasi Seni dan Budaya”.
  2. Dr. Pinky Saptandari, antropolog dan staf pengajar di Fisip Unair: “Catatan Tentang Gerakan Perempuan Indonesia”.
  3. Dr. Adriana Venny: “Perempuan dalam Mitos-Mitos Nusantara” sebagaimana topik disertasinya di Universitas Indonesia.
  4. Satu-satunya narasumber laki-laki adalah arkeolog M. Dwi Cahyono, M.Hum: “Citra Perempuan dalam Konteks Budaya Panji”.

Dalam paparannya Pinky Saptandari menuturkan, bahwa peran perempuan selama ini masih diremehkan. Padahal dalam dunia militer sekalipun sudah tercatat dalam sejarah. Sebagaimana dilihat dalam buku-buku sejarah Mangkunegaran bahwa yang namanya “Prajurit Perempuan Mangkunegaran” adalah perajurit yang hebat. Dan itu diakui oleh orang-orang Belanda. Ini menunjukkan bahwa persoalannya dari masa lalu hingga sekarang potensi dan kehebatan itu ada, tetapi mengapa kemudian tidak berkembang? Itulah kemudian yang menjadi masalah. Bahwasanya kalau perempuan menjadi pemimpin itu harus galak, harus keras, sementara perempuan pemimpin yang lemah lembut malah dianggap tidak berdaya.

Sedangkan Adriana Venny mengemukakan, selama ini dongeng-dongeng nusantara yang telah berupa teks  banyak mengandung ideologi tertentu yang merugikan perempuan. Padahal anak-anak di Indonesia sangat menggemari cerita sebelum tidur ataupun story telling. Menceritakan sebuah kisah yang mengandung tema pembunuhan, traficking, penelantaran dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya, membuat banyak orangtua menjadi gamang. Akibatnya mungkin saja orangtua akhirnya lebih menjatuhkan pilihan pada dongeng-dongeng Barat yang lebih ramah terhadap anak.

Karena itu, kata Antarini Arna, diperlukan bagaimana menarasikan ulang kepemimpinan tokoh perempuan dalam seni dan budaya tradisional dengan pendekatan baru yaitu pendekatan feminis atau kesetaraan gender. Mereka juga memberi makna baru konsep maskulinitas tradisional, karena konsep maskulintas yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang intoleran ini adalah maskulinitas tradisional yang sekarang disebut sebagai toxic masculinity, yaitu bagaimana mereka mengglorifikasi maskulinitas dalam bentuk peperangan atau perlawanan terhadap negara yang demokratis dan yang seperti itu.

Demikian pula dalam khasanah Budaya Panji ternyata juga dapat ditemukan citra perempuan yang setara dengan kaum laki-laki. Gambaran perihal sosok Candra Kirana misalnya, menegaskan bahwa posisi perempuan yang mandiri dan mampu mengatasi berbagai masalah. Barangkali itu sebabnya Persatuan Isteri Tentara (Persit) memilih nama organisasinya: Persit Kartika Candrakirana.

Menurut M. Dwi Cahyono, pada era Hindu Buddha, atau ada masa lapis Jawa Kuna atau Jawa-Tengahan, ternyata posisi wanita tidak sepenuhnya berada dalam dominasi peran pria dalam seluruh aspek kehidupan sosial budaya.  Ada lima bidang peran penting perempuan dalam sejarah dan budaya, yang menujukkan bahwa perempuan bisa berada di depan dan menjadi pemimpin yang hebat. Bidang-bidang tersebut yaitu: 1) bidang politik, pemerintahan dan militer; 2) bidang religi; 3) bidang kesenian; 4) bidang organisasi sosial; dan 5) bidang ekonomi atau pencaharian hidup.

Namun Dwi Cahyono menggarisbawahi, berbicara soal peran laki-laki dan perempuan tidaklah merupakan gambaran yang tunggal tapi ada varian-varian yang dari masa ke masa, dari tempat yang satu ke tempat lainnya di nusantara sendiri ternyata berbeda-beda.

Tertarik, silakan lanGsung pesan ke penerbit: Komunitas Seni Budaya BrangWetan: 0812 3100 832

Juga tersedia buku-buku lainnya.

 

In category: ArtikelPenerbitanTerkini
Related Post
no-img
BUKU PERTAMA SEJARAH DAN BUDAYA KERUPUK

Judul:    GURIH ALAMI. KERUPUK KLENTENG RASA ASLI  d/h TAN TJIAN LIEM. K...

no-img
Dalam Budaya Nusantara Sudah Dikenal Adanya Kesetaraan Gender

GENDER adalah perbedaan peran dan fungsi laki-laki dan perempuan yang diben...

no-img
Menyiasati Cerita Panji agar Cocok untuk Anak

Pengantar Buku: “Cerita Panji Ramah Anak” SUATU ketika sejumla...

no-img
Ziarah Abadi buat Profesor Ludruk

Judul buku      : Henricus Supriyanto. Hidup itu Penuh Guyonan Penulis...

no-img
Henricus Supriyanto. Hidup itu Penuh Guyonan

Kepengarangan           : Eka Budianta, Henri Nurcahyo, Sunu Catur Bu...

no-img
Menyulap Bebatuan Menjadi Warna Lukisan

DAHULU kala, pada Zaman Batu, nenek moyang manusia menggunakan batu untuk b...