Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Ikut Main Ludruk
SURABAYA: Dr. Restu Gunawan, M.Hum, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, tiba-tiba digaet ikut bergabung dalam pentas ludruk garingan Besut Jajah Milangkori, Sabtu malam (4/4/26). Maka terjadilah dialog improvisasi yang justru menjadikan pertunjukan berlangsung cair dan akrab.
Pentas perdana Ludruk Garingan “Besut Jajah Deso Milangkori” dimulai semalam di Surabaya, tepatnya di Balai RW VIII Gunung Anyar Emas, Jl. Gunung Anyar Emas IX Blok R No 6. Selain Restu Gunawan, hadir dalam acara ini adalah Kepala Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Jawa Timur, Endah Budi Heryani, S.S., M.M, dan tokoh masyarakat Surabaya A.H. Thony.
Ketua RW VIII, Heru Nugroho, memberikan sambutan selaku tuan rumah. Dikatakan, bahwa keberadaan Sanggar SAMIN merupakan kebanggaan tersendiri sehingga mengangkat nama wilayah ini dengan adanya sejumlah kegiatan kesenian. Karena itu, “saya menyebutnya kampung kami ini adalah Kampung Sanggar,” jelasnya.
Pentas diawali dengan pertunjukan pembuka Wayang Suket dan Baca Puisi dari Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Gunung Anyar Emas yang merupakan binaan Meimura. Acara ini merupakan bagian dari program Pemberdayaan Ruang Publik Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan yang diajukan oleh Meimura (Meijono) atas nama perorangan.
Isu yang diangkat adalah soal sampah. Meimura alias Meijono yang memerankan tokoh Besut, didampingi oleh Cak Hengky Kusuma (ludruk RRI) dan Cak Puryadi (ludruk Karya Budaya). Sebagai penanda awal perjalanan pentas keliling 10 kota, maka Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi (Dr. Restu Gunawan, M.Hum) melakukan pemotongan tumpeng yang diberikan kepada Meimura.

Sedangkan Dr. Restu Gunawan, M.Hum, yang langsung hadir dari Jakarta mengaku merasa senang karena kegiatan ini, yaitu Besutan, turun ke Balai RW. Ini perlu diapresiasi karena dulunya ludruk memang biasa dari desa ke desa, dari kampung ke kampung. Bahkan ketika tadi ada kejadian mati listrik, zaman dulu ya begitu. Mati listrik itu biasa. Tidak perlu merasa kecil hati. Yang jelas, kegiatan kesenian perlu dilakukan secara gotong royong dari semua aspek dan masyarakat. Tidak bisa hanya diserahkan pada pemerintah atau komunitas, namun kita semua harus kolaborasi.
“Malam ini kita menyaksikan kegiatan yang meskipun kecil namun mudah-mudahan memberikan dampak yang besar,” tegas Restu.
Ditambahkan, pentas Besut Jajah Desa Milangkori ke-10 kota yang dimulai dari kampung ini, diharapkan supaya nilai-nilai dan semangat dari teman-teman untuk menyuarakan bagaimana perlunya pelestarian dan perlindungan tradisi bisa dilakukan oleh semua masyarakat, bahkan dari masyarakat yang terkecil sekalipun. Apalagi kali ini banyak juga dihadiri anak-anak kecil, yang meskipun nampak hanya bermain-main namun pertunjukan ini akan tertanam di memorinya, sehingga ketika dewasa nanti mereka akan menjadi penggerak-penggerak pelindungan dan pelestarian tradisi.

Dalam Ludruk Garingan Besutan kali ini, Cak Meimura mengangkat isu soal pencemaran sampah yang terjadi di Gunung Anyar yang memang dekat dengan pantai. Dikisahkan: Besut jadi nelayan, namun jala yang dilempar kali ini tidak hanya ikan yang didapat, namun juga ban mobil, tikar plastik, botol-botol air mineral, popok bayi (pampres) dan berbagai pakaian lainnya. Bahkan juga pesawat televisi. Ini sangat memprihatinkan.
Maka kemudian Sumo Gambar (diperankan Hengky Kusuma) marah-marah, protes keras kepada para pembuang sampah di sungai dan laut. Jamino (Puryadi) berusaha meredamnya: “Sabar, sabar Itu semua pertanda belum komplitnya kesadaran dan pemahaman arti pentingnya sungai dan laut dan lingkungan.”
Justru tersebab dari sikap Jamino itulah maka konflik mulai muncul antara Jamino dan Sumo Gambar. Kemudian Besut menengahi meski dia dalam posisi yang merugi.
Pamungkas dari acara ini adalah sarasehan budaya yang menghadirkan narasumber Henri Nurcahyo dan Imam Ghozali, dengan moderator Ribut Wijoto.
Pertunjukan berikutnya akan dilakukan di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), hari Jumat, 10 April, disusul Nganjuk tanggal 25 April. Setelah itu akan keliling 8 kota lainnya, yaitu Mojokerto, Jombang, Malang, Kediri, Madiun, Blitar, dan Jember. (*)