Nirwan Dewanto: Seniman Berperan dalam Pengembangan Masyarakat
SURABAYA: Jika membicarakan masyarakat grassroot, kita tidak bisa hanya melihatnya dari sisi wacana. Kehidupan mereka berangkat dari persoalan nyata yang mereka hadapi sehari-hari. Karena itu, ketika seniman di kota ingin berperan dalam pengembangan masyarakat, ruang kerjanya tidak harus selalu berada dalam wilayah seni rupa. Seni dapat bersinggungan dengan berbagai bentuk kesenian dan persoalan kehidupan masyarakat.
Nirwan Dewanto (Kurator ARTSUBS), menyampaikan hal itu dalam diskusi seni rupa “ARTSUBS 2026: Surabaya dan Medan Seni Indonesia,” Senin siang (14/9). Acara tersebut dilangsungkan Auditorium Program Studi Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, Kampus Lidah Wetan.
Selain Nirwan, diskusi ini menghadirkan narasumber: Hendra Himawan KBUSR (Kurator KBUSR), Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. (Guru Besar dalam bidang ilmu Seni Rupa) dengan moderator: Asy Syams Elya Ahmad (Dosen Seni Rupa Murni UNESA).

Hal ini menjawab pertanyaan seorang peserta diskusi: Bahwa gravitasi seni rupa di surabaya, jawa timur punya budaya yang kental. Kecenderungan mahasiswa yang proses pengkaryaannya masih belum ternavigasi secara natural membutuhkan solusi agar karya yang dilahirkan selaras dengan dinamika yang ada di ekosistem grassroot?
Menurut Nirwan, salah satu persoalan yang masih dihadapi dalam pengembangan kesenian rakyat adalah belum memadainya perhatian dan dukungan dari kebijakan di tingkat lokal. Banyak potensi kesenian yang tumbuh dari masyarakat, tetapi belum sepenuhnya mendapatkan ruang dalam kebijakan maupun program pengembangan kebudayaan.
Di sisi lain, pengertian seni rupa sendiri kini semakin meluas. Perkembangan ini memungkinkan lahirnya berbagai bentuk dan aliran baru yang berangkat dari pengalaman masyarakat maupun persoalan kehidupan sehari-hari. Bukan tidak mungkin, karya-karya yang tumbuh dari ruang grassroot tersebut pada suatu saat dapat masuk ke ruang pamer dan dikenal oleh publik yang lebih luas, sehingga semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk melihat, memahami, dan menghayatinya.
Namun, dunia seni selalu memiliki paradoks, terutama jika dilihat dari sisi sosial dan ekonomi. Di satu sisi, seni ingin menjadi ruang yang terbuka dan dekat dengan masyarakat; di sisi lain, seni juga berhadapan dengan pasar, modal, eksklusivitas, dan kepentingan tertentu. Bahkan, kecenderungan orientalisme dapat terus muncul ketika proyek-proyek grassroot dilihat dari perspektif pihak luar yang datang untuk merepresentasikan atau menafsirkan kehidupan masyarakat tersebut. Karena itu, tantangannya bukan hanya bagaimana membawa seni grassroot ke ruang pamer, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat tidak sekadar menjadi objek yang dipamerkan, melainkan turut memiliki suara dalam menentukan bagaimana kehidupan dan kebudayaan mereka direpresentasikan.
Pertanyaan lain datang dari seorang mahasiswa DKV ITS: Bagaimana perkembangan seni rupa kontemporer surabaya jika dilihat dari kacamata ARTSUBS?
Nirwan menjawab: Seni rupa tidak serta-merta berubah hanya karena hadirnya sebuah peristiwa besar seperti ARTSUBS. Peristiwa seni justru menjadi bagian dari rangkaian pengalaman yang dapat memunculkan inspirasi, gagasan, dan kemungkinan baru bagi perkembangan seni. Perubahan dalam seni rupa lahir dari banyak faktor, mulai dari pengalaman subjektif dan personal seniman, perkembangan pemikiran, hingga berbagai faktor eksternal yang memengaruhi kehidupan dan cara pandang mereka.
Dalam konteks tersebut, ARTSUBS bukanlah sentra atau pusat pertumbuhan seni rupa. ARTSUBS lebih tepat dipahami sebagai sebuah muara baru, tempat berbagai gagasan, pengalaman, karya, dan perkembangan yang telah berlangsung di berbagai tempat bertemu dan mendapatkan ruang untuk dipresentasikan. ARTSUBS juga tidak tumbuh dalam ruang yang kosong. Ia belajar dan menyerap pengalaman dari berbagai peristiwa seni rupa yang telah lebih dahulu berkembang, termasuk biennale dan berbagai perhelatan seni seperti ArtJak dan ArtJog.
Karena itu, ARTSUBS tidak tepat dipahami hanya sebagai sebuah peristiwa seni lokal. Kehadirannya merupakan bagian dari dinamika seni rupa yang lebih luas, yang mempertemukan berbagai seniman, gagasan, wacana, dan pengalaman dari beragam wilayah. Surabaya menjadi tempat perjumpaannya, tetapi percakapan yang dibawanya melampaui batas kota.

Ada lagi pertanyaan: Apakah ARTSUBS sudah bisa mengcover seni rupa kontemporer di Indonesia sehingga menjadi kiblat seni dari daerah lain?
Menurut Nirwan: ARTSUBS tidak hadir dengan batas tematik yang terlalu ketat. Tema tetap menjadi pijakan kuratorial, tetapi karya-karya yang lahir dan ditampilkan justru membuka berbagai irisan gagasan yang membuat ARTSUBS tidak berhenti pada satu tema tertentu. Dengan demikian, ARTSUBS memberi ruang bagi keberagaman pendekatan, pengalaman, dan perkembangan praktik seni rupa.
Sebagai sebuah pameran berskala besar, ARTSUBS membutuhkan perencanaan jangka panjang agar dapat terus berkembang dan memiliki keberlanjutan. Karena itu, penyelenggaraan ARTSUBS tidak hanya bergantung pada aspek artistik, tetapi juga pada kemampuan membangun dan mengembangkan sumber daya ekonomi. Realitasnya, penjualan karya hingga saat ini masih jauh dari cukup untuk menutup seluruh biaya penyelenggaraan ARTSUBS. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan sebuah peristiwa seni berskala besar membutuhkan ekosistem pendukung yang lebih luas, tidak semata-mata mengandalkan sales karya, tetapi juga melibatkan berbagai sumber pendanaan dan kemitraan. (put)