ARTSUBS sebagai Ruang Pertemuan Seni, Publik, dan Pasar
SURABAYA: ARTSUBS adalah sebuah peristiwa seni yang mencoba mempertemukan dua karakter yang selama ini kerap ditempatkan dalam ruang berbeda, yakni kedalaman artistik sebuah pameran berskala besar dengan dinamika komersial yang melekat pada sebuah art fair. ARTSUBS berada di antara dua wilayah tersebut. Di satu sisi, ia memberikan ruang bagi eksplorasi artistik, gagasan, dan pengalaman estetik yang luas sebagaimana ditemukan dalam peristiwa biennale; di sisi lain, ia juga membuka ruang perjumpaan antara karya, seniman, kolektor, dan pasar.
Hal itu disampaikan oleh Henri Nurcahyo, Humas Artsubs, ketika memberikan pengantar dalam acara Konferensi Pers di Hotel Kokoon Surabaya, Kamis siang (17/9). Hadir dalam acara tersebut dua kurator ArtSubs yaitu Nirwan Dewanto dan Asmujo Jono Irianto, serta direktur Artsubs, Rambat. Pameran seni kontemporer itu sendiri dibuka hari Sabtu (19/9) selama 51 hari, hingga 8 November mendatang,
Ditambahkan Henri, perpaduan tersebut tercermin dalam keragaman karya yang ditampilkan. ARTSUBS tidak hanya menghadirkan karya instalasi berskala besar yang dirancang untuk membangun pengalaman visual dan spasial di dalam ruang pamer, tetapi juga menghadirkan karya-karya yang memiliki kemungkinan untuk diapresiasi dan dikoleksi. Dengan demikian, pengunjung tidak berhadapan dengan satu jenis pengalaman seni saja. Ada karya yang mengajak publik memasuki pengalaman ruang, ada yang menawarkan persoalan dan refleksi, dan ada pula karya yang membuka kemungkinan hubungan yang lebih langsung dengan kolektor dan pasar seni.
Kehadiran ARTSUBS menjadi semakin menarik jika ditempatkan dalam konteks kehidupan seni rupa Surabaya. Kota ini sebenarnya memiliki agenda seni yang cukup padat. Pameran, diskusi, pertunjukan, komunitas, aktivitas galeri, dan berbagai kegiatan seni lainnya berlangsung secara berkala. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak adanya kegiatan, melainkan sejauh mana keberadaan berbagai kegiatan tersebut diketahui dan disadari oleh masyarakat luas. Tingkat awareness publik lokal terhadap dinamika seni rupa masih terus berkembang. Karena itu, tantangan ARTSUBS bukan hanya menyelenggarakan pameran yang besar, tetapi juga membangun kebiasaan publik untuk datang, melihat, mengalami, membicarakan, dan pada akhirnya merasa bahwa seni merupakan bagian dari kehidupan kota.
Dari titik itulah ARTSUBS memiliki arti yang lebih luas. Sebuah pameran besar tidak seharusnya hanya meninggalkan jejak berupa jumlah karya atau jumlah pengunjung, tetapi juga membangun pengetahuan, kebiasaan apresiasi, jaringan, dan hubungan baru di antara berbagai pelaku seni. Jika proses tersebut berlangsung secara konsisten, ARTSUBS dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkuat posisi Surabaya dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia.
Karena itu, ada harapan agar ARTSUBS tidak berhenti pada penyelenggaraan yang ketiga. Keberlanjutan menjadi persoalan penting, terutama karena membangun sebuah peristiwa seni berskala besar membutuhkan energi, sumber daya, jaringan, dan kerja yang tidak sedikit. ARTSUBS akan memiliki daya hidup yang lebih kuat apabila pengembangannya tidak bertumpu pada satu figur saja, melainkan menjadi kerja bersama berbagai pihak—seniman, kurator, kolektif, galeri, institusi pendidikan, pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, kolektor, dan tentu saja publik.
Dengan kolaborasi lintas pihak tersebut, ARTSUBS dapat berkembang dari sebuah inisiatif personal menjadi sebuah ekosistem bersama. Pada akhirnya, keberhasilan ARTSUBS bukan hanya terletak pada kemampuannya menggelar pameran yang semakin besar, melainkan pada kemampuannya membuat semakin banyak orang merasa memiliki hubungan dengan seni. Sebab sebuah peristiwa seni akan benar-benar hidup ketika ia tidak hanya ditunggu oleh kalangan seni, tetapi juga dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kotanya. (put)