Jika Sastra Punya H.B. Jassin, Seni Rupa Punya Melani Setiawan
SURABAYA: Dunia sastra Indonesia memiliki H.B. Jassin yang tekun menyimpan naskah, surat, dan berbagai dokumen perjalanan para sastrawan. Dunia seni rupa Indonesia memiliki sosok dengan peran yang tidak jauh berbeda: Melani Setiawan. Selama puluhan tahun, dokter spesialis ultrasonografi ini memotret seniman, mencatat nama dan peristiwa, menyimpan surat-menyurat, serta merekam pergaulan yang mengiringi perjalanan seni rupa Indonesia.
“Kalau di dunia sastra ada H.B. Jassin, bisa jadi dalam seni rupa kontemporer ada Bu Melani,” ujar Adi Wicaksono, penulis dan kurator seni rupa.
Pernyataan tersebut muncul dalam diskusi buku Indonesian Art World (1977–2022), yang berlangsung di selasar Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu siang (20/9). Diskusi menghadirkan Eddy Prakoso, art dealer sekaligus pendiri Srisasanti Syndicate, dan Asmudjo J. Irianto, kurator ARTSUBS, dengan Wahyudin sebagai moderator.
Perbandingan dengan H.B. Jassin bukan terutama soal profesi atau bentuk pekerjaan, melainkan tentang ketekunan menyimpan jejak sebuah dunia kebudayaan. Jika Jassin mengumpulkan manuskrip, surat, dan dokumen yang membantu merekonstruksi perjalanan sastra Indonesia, Melani selama puluhan tahun menyimpan foto, surat, nama, wajah, dan peristiwa yang merekam perkembangan seni rupa Indonesia.

Menariknya, Melani tidak pernah memulai semua itu dengan ambisi menjadi arsiparis. Ketika teknologi fotografi masih menggunakan kamera analog, ia datang ke berbagai peristiwa seni rupa dengan kameranya. Setiap foto kemudian dicetak dan disimpan. Bahkan, ketika tidak mengetahui nama seseorang yang tertangkap kamera, Melani berusaha mencarinya. Ia menghubungi orang-orang yang diperkirakan mengenal sosok tersebut, menanyakan nama lengkapnya, kemudian mencatat informasi itu sebagai caption foto.
Kebiasaan yang tampak sederhana tersebut berlangsung puluhan tahun. Tanpa disadari, Melani sedang membangun sebuah arsip personal yang kemudian menjadi salah satu rekaman penting mengenai kehidupan dunia seni rupa Indonesia. Foto-fotonya bukan hanya merekam karya atau pameran. Di dalamnya terdapat wajah para seniman ketika masih muda, pertemuan, pembukaan pameran, diskusi, perjalanan, hingga pergaulan sehari-hari yang sering kali tidak masuk dalam dokumentasi resmi.
Ada seniman yang kemudian menjadi tokoh penting. Ada pula yang pernah aktif, tetapi kemudian meninggalkan dunia seni rupa. Sebagian lainnya telah meninggal dunia. Karena itu, arsip Melani tidak hanya menyimpan apa yang pernah terjadi, tetapi juga siapa saja yang pernah menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Asmudjo J. Irianto bahkan menyebut Melani sebagai “omniperson”, sosok yang seolah selalu hadir di berbagai peristiwa seni rupa. Kedekatannya dengan para seniman membuat dokumentasi Melani memiliki dimensi yang tidak selalu ditemukan dalam katalog pameran.
Yang disimpannya juga bukan hanya foto. Melani mengoleksi surat-menyurat dengan para seniman. Sebagian masih berupa surat tulisan tangan. Isinya beragam: pembicaraan tentang seni, kabar kegiatan, persoalan pribadi, hingga curahan hati. Jika foto memperlihatkan wajah sebuah zaman, surat-surat tersebut memperlihatkan suara dan hubungan personal orang-orang yang hidup di dalamnya. Di sinilah arsip Melani memperoleh arti yang lebih luas. Ia bukan sekadar kumpulan dokumentasi visual, tetapi juga menyimpan jaringan hubungan yang membentuk ekosistem seni rupa Indonesia.
Dari Terapi Menjadi Arsip Sejarah
Melani mulai menjadi dokter pada 1977, ketika berusia 32 tahun. Pada awalnya, memotret dan mengumpulkan dokumentasi seni rupa dilakukannya sebagai semacam terapi. Namun aktivitas personal tersebut berubah menjadi kebiasaan panjang yang terus dilakukan selama puluhan tahun.
Pada masa kamera analog, setiap pemotretan membutuhkan proses yang tidak sederhana. Film harus dicuci, foto dicetak, kemudian disimpan. Tidak ada fasilitas untuk langsung melihat hasil jepretan seperti sekarang. Justru karena prosesnya panjang, Melani dituntut teliti. Ia tidak hanya menyimpan gambar, tetapi juga berusaha memastikan identitas orang dan konteks peristiwa yang direkam.
Ketelitian tersebut menjadi sangat penting ketika arsip itu kemudian disusun menjadi buku Indonesian Art World (1977–2022). Ribuan foto dan dokumen harus dipilah, diidentifikasi, dan diberi keterangan. Buku yang semula direncanakan terbit pada 2012 itu baru dapat diwujudkan sekitar satu dekade kemudian. Proses panjang tersebut memperlihatkan bahwa yang sedang dikerjakan Melani bukan sekadar membuat album kenangan. Ia sedang berusaha menyusun kembali potongan-potongan dunia seni rupa Indonesia yang terserak selama puluhan tahun.
Ada keunikan lain dalam posisi Melani. Ia bukan seniman, bukan kurator, dan bukan kolektor. Profesi utamanya adalah dokter spesialis ultrasonografi. Ia juga merupakan putri Drg. Endang Witarsa, dokter gigi sekaligus pelatih sepak bola legendaris Indonesia. Namun, jika sang ayah dikenal melalui dunia sepak bola, Melani justru meninggalkan jejak di dunia seni rupa melalui cara yang lebih senyap: kamera, catatan, dan arsip. Ia berada di tengah dunia seni rupa, tetapi tidak menjadi bagian dari panggung utamanya.
Justru posisi tersebut memungkinkan Melani melihat dan menyimpan banyak hal yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Ia memotret seniman ketika belum terkenal, menyimpan surat ketika hubungan personal masih berlangsung, dan mencatat nama orang-orang yang mungkin pada saat itu belum dianggap penting. Puluhan tahun kemudian, wajah dan nama-nama tersebut menjadi bagian dari sejarah.
Karena itu, perbandingan dengan H.B. Jassin menjadi menarik. Nilai penting seorang dokumentator kebudayaan sering kali baru terasa ketika waktu sudah berjalan jauh. Apa yang dahulu tampak sebagai catatan kecil dapat berubah menjadi sumber penting untuk memahami sebuah zaman.
Melalui Indonesian Art World (1977–2022), Melani tidak sekadar menerbitkan kumpulan foto. Ia membuka kembali sebuah dunia yang pernah hidup: siapa orang-orangnya, di mana mereka bertemu, bagaimana mereka bergaul, apa yang mereka kerjakan, dan bagaimana generasi demi generasi seni rupa Indonesia tumbuh.
Jika H.B. Jassin menjaga ingatan sastra melalui naskah dan surat, Melani Setiawan menjaganya melalui foto, nama, surat, dan kesaksian visual. Keduanya menunjukkan hal yang sama: kebudayaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang mencipta, tetapi juga oleh mereka yang tekun memastikan agar jejak penciptaan itu tidak hilang. (put)