Beritaseni rupaTerbaru

Dari GWK, Nyoman Nuarta Belajar Memperjuangkan Gagasan Besar

no-img
Dari GWK, Nyoman Nuarta Belajar Memperjuangkan Gagasan Besar

SURABAYA: Pengalaman panjang membangun Garuda Wisnu Kencana (GWK) mengajarkan I Nyoman Nuarta bahwa gagasan besar tidak cukup hanya memiliki bentuk artistik yang kuat. Sebuah gagasan harus berani diperjuangkan, ditawarkan kepada berbagai pihak, dihitung secara matang, dan dipertahankan ketika menghadapi persoalan pendanaan, teknis, maupun berbagai dinamika di sepanjang prosesnya.

Pelajaran itulah yang dibagikan Nuarta dalam forum “Seniman Wicara”, bagian dari rangkaian ARTSUBS 2026, di selasar Balai Budaya, Surabaya, Minggu sore (20/9). Didampingi kurator ARTSUBS Nirwan Dewanto, pematung kelahiran Tabanan, Bali, tersebut mengisahkan bagaimana gagasan GWK yang berawal dari inisiatif pribadi akhirnya berkembang menjadi salah satu proyek monumental yang dikenal luas.

Nuarta mengatakan, sejak awal dirinya menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare untuk mewujudkan gagasan tersebut. Ketika tidak mendapatkan dukungan, ia kemudian membawa gagasan itu kepada Presiden Soeharto dan mengaku memperoleh pinjaman sebesar Rp23 miliar.

“Saya menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare. Ketika tidak ada pihak yang membantu, saya melapor kepada Presiden Soeharto, hingga akhirnya beliau mencairkan pinjaman sebesar Rp23 miliar,” kata Nuarta.

Namun, dukungan tersebut bukan berarti persoalan selesai. Setelah proyek berjalan sekitar delapan tahun, pinjaman mulai ditagih. Nuarta mengaku bahkan sempat menawarkan aset senilai sekitar Rp1,3 triliun kepada negara, tetapi tidak memperoleh kepastian tindak lanjut. Begitu banyak polemik dan dinamika yang terjadi.

Perjalanan GWK kemudian berlanjut melalui kerja sama dengan Grup Alam Sutera. Kawasan tersebut akhirnya berkembang menjadi destinasi wisata dan budaya yang ramai dikunjungi. Bagi alumnus ITB ini, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa mewujudkan gagasan besar membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat karya. Seorang seniman harus mampu menyusun proyek, membangun jaringan, mencari dukungan, sekaligus meyakinkan pihak lain bahwa gagasan yang ditawarkan layak diwujudkan.

“Pertama-tama adalah mengajukan proposal proyek. Saya membuat proyek gagasannya terlebih dahulu, lalu menawarkannya kepada pihak mana pun,” kata seniman asal Tabanan, Bali ini.

Pengalaman GWK juga membuat Nuarta melihat bahwa kemampuan menjual gagasan menjadi bagian penting dari kerja seorang seniman. Menjual karya seni itu tidak mudah. Dibutuhkan pembuktian konkret, bukan sekadar janji.

Menurut dia, jaringan memang penting, tetapi relasi tidak otomatis membuat sebuah gagasan diterima. Seniman tetap harus mampu membaca situasi dan menemukan cara yang tepat untuk menawarkan gagasannya. Meskipun memiliki jaringan relasi, kita tetap harus cerdik mencari celah yang elegan dalam menawarkan gagasan.

Dari GWK pula Nuarta mengembangkan pengalaman teknis dalam mengerjakan karya berskala raksasa. Ia mengatakan telah mematenkan teknik pembuatan patung organis berskala besar pada 1993. Penguasaan teknologi, menurut dia, memungkinkan pengerjaan patung berukuran besar dilakukan secara lebih efisien.

Ia menyebut sistem kerangka khusus yang digunakannya dapat mengurangi kebutuhan terhadap scaffolding atau struktur penyangga dalam proses tertentu. Efisiensi tersebut, menurut dia, bahkan dapat mencapai sekitar 40 persen. Standar HSE (Health, Safety, Environment) dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) juga menjadi bagian penting dalam proses pengerjaan.

Pengalaman tersebut kemudian dibawa ketika Nuarta mengerjakan desain Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menyebut proyek tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 11 bulan.

“Saya berani berjanji karena sudah mengalkulasi seluruh pengalaman dari proyek GWK,” kata pencipta Monumen karapan sapi ini.

Menurut pencipta Monumen Jales Veva Jayamahe di Tanjung Perak tersebut, GWK menghadirkan persoalan teknis yang kompleks karena ukurannya sangat besar dan menghadapi terpaan angin. Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika mengerjakan Istana Garuda. Konsep Istana Garuda dikembangkan melalui pendekatan archsculpt, perpaduan antara seni patung dan arsitektur.

Bagi Nuarta, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seniman yang mengerjakan karya monumental juga harus memahami persoalan di luar aspek artistik. Ia perlu membaca kondisi lingkungan, karakter masyarakat, kepentingan pihak yang terlibat, hingga berbagai kemungkinan pengembangan proyek.

“Kita wajib meneliti aspek ekstrinsik dan intrinsik, memahami kondisi lingkungan sekitar, serta karakter orang-orang di dalamnya,” katanya.

Karena itu, menurut Nuarta, kemampuan menyusun narasi sama pentingnya dengan kemampuan membuat karya. Gagasan harus dapat dijelaskan dengan cara yang rasional agar dapat dipahami dan dipercaya oleh pihak yang memiliki kewenangan maupun sumber daya. Seorang pematung harus berpikir realistis agar konsepnya cepat disetujui.

Dari pengalaman GWK, Nuarta menunjukkan bahwa karya monumental sesungguhnya dimulai jauh sebelum sebuah patung berdiri. Ia dimulai dari keberanian mengajukan gagasan, kemudian memperjuangkannya melalui jaringan, perhitungan, teknologi, kolaborasi, dan kemampuan meyakinkan orang lain. (put)

In category: Beritaseni rupaTerbaru
Related Post
no-img
Dari GWK, Nyoman Nuarta Belajar Memperjuangkan Gagasan Besar

SURABAYA: Pengalaman panjang membangun Garuda Wisnu Kencana (GWK) mengajark...

no-img
Jika Sastra Punya H.B. Jassin, Seni Rupa Punya Melani Setiawan

SURABAYA: Dunia sastra Indonesia memiliki H.B. Jassin yang tekun menyimpan ...

no-img
ARTSUBS Dibuka: Menjawab Tantangan Kota Surabaya yang Juga Besar

SURABAYA: Pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS kali ini memang besar, kare...

no-img
Mengapa ARTSUBS Digelar di Surabaya?

SURABAYA: Direktur ArtSubs, Rambat, menjawab pertanyaan mengenai alasan ART...

no-img
ARTSUBS sebagai Ruang Pertemuan Seni, Publik, dan Pasar

SURABAYA:  ARTSUBS adalah sebuah peristiwa seni yang mencoba mempertemukan...

no-img
Asmudjo J. Irianto: Perjalanan ARTSUBS dari Tahun ke Tahun

SURABAYA: Asmudjo J. Irianto, kurator Artsubs menyatakan: Perbedaan antara ...

  • 9,827
  • 1