ROOT, EKSPLORASI JAGUNG DI ATAS TERPAL
(bagian satu)
Hariyanto alias Hari Ghulur menyajikan karya baru, namanya Root, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Rabu malam (8/7/26). Pertunjukan ini merupakan program rutin dua bulanan On Stage Studio Plesungan, milik Melati Suryodarmo.
Lantaran Hari berasal dari Madura, semula Root itu dikira bahasa Madura, ternyata bahasa Inggris, artinya akar. Dalam siaran pers disebutkan, Root adalah karya terbaru Hari Ghulur yang berangkat dari sikap mendak atau tanjak, mengeksplorasi hubungan tubuh dengan objek sebagai ruang untuk menguji keseimbangan, daya tahan, dan kemampuan beradaptasi di tengah ketidakstabilan. Melalui terpal dan jagung sebagai lanskap pertunjukan, tubuh terus didorong untuk mencari pijakan baru. Berangkat dari ingatan kolektif masyarakat Madura terhadap jagung, Root menghadirkan refleksi tentang relasi tubuh dengan tanah, memori, serta asal-usul yang terus membentuk keberadaan kita.
Deskripsi ini rasanya belum menggambarkan karya tersebut. Saya sempatkan menonton General Repetisi (GR) pertunjukan ini agar memahaminya, namun saya malah bingung mencari kaitan antara deskripsi tersebut di atas dengan apa yang saya saksikan. Saya tidak melihat sikap mendak atau tanjak seperti yang dituliskan itu.
Dalam brosur yang dibagikan menjelang pertunjukan, disebutkan bahwa sikap mendak atau tanjak menempatkan manusia sedekat mungkin dengan tanah. Kaki mencengkeram permukaan, menyangga berat tubuh agar tidak runtuh, sementara tubuh bagian atas bergerak ke segala arah, seolah menolak tunduk pada gravitasi. Di antara dua tarikan itu, antara keinginan untuk tetap berakar dan dorongan untuk menjadi bebas, maka terbentuklah ruang pengalaman yang menjadi inti karya ini.
Jujur, saya masih bingung, di bagian mana ada sikap menolak tunduk terhadap gravitasi? Yang saya saksikan adalah para penari yang menjejak-jejakkan kakinya ke bumi. Lantas, apakah ini bisa dimaknai menolak gravitasi dengan cara menjejak bumi?

Dalam brosur tersebut juga dituliskan: Hari menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam sebuah koreografi yang menguji hubungan tubuh dengan objek, ruang dan ingatan. Tubuh tidak hanya bergerak, tetapi terus menerus bernegosiasi dengan kondisi yang berubah. Koreografi menjadi sebuah peristiwa tentang daya tahan: bagaimana tubuh bertahan menghadapi ketidakstabilan, ketidaknyamanan, dan ketidakpastian.
Terpal dan jagung dihadirkan sebagai sebuah lanskap tempat tubuh mengalami negosiasi tersebut. Permukaan terpal yang licin dan butiran jagung yang berserakan menghilangkan kepastian pijakan. Setiap langkah menuntut penyesuaian baru; setiap perpindahan berat badan mengandung risiko tergelincir, rasa sakit, atau kehilangan keseimbangan. Ketidaknyamanan bukanlah hambatan, melainkan kondisi yang sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana tubuh membangun strategi bertahan, menemukan kembali pusat gravitasinya, dan terus bergerak di tengah situasi yang rapuh.
Saya masih bingung, tidak melihat adanya “ketidaknyamanan, tergelincir, dan rasa sakit, dan kehilangan keseimbangan.” Jika mengacu pada penjelasan tersebut, saya merasa bodoh tidak bisa memahami karya ini.
Disebutkan juga, pemilihan jagung berakar pada ingatan kolektif masyarakat Madura. Selama bertahun-tahun, jagung menjadi sumber pangan utama sekaligus simbol kemampuan bertahan hidup di tengah keterbatasan. Dalam perjalanan sejarahnya jagung pernah dilekatkan pada citra kemiskinan dan perlahan tergantikan oleh beras serta budaya pangan yang baru. Namun hari ini, jagung kembali memperoleh makna yang berbeda: bukan lagi sebagai pertanda keterpaksaan, melainkan sebagai pilihan yang lahir dari kesadaran akan kesehatan, keberlanjutan, dan hubungan yang lebih dekat dengan tanah tempat kehidupan bertumbuh.

Melalui Root, Hari Ghulur mengajak kita memandang kembali jagung bukan semata sebagai bahan pangan, melainkan sebagai medium untuk memikirkan ulang relasi antara tubuh, tanah, dan ingatan. Setiap pijakan di atas butiran jagung menjadi sebuah tindakan untuk merasakan kembali akar-akar yang menopang keberadaan manusia-akar yang tidak menghalangi kebebasan, tetapi justru memungkinkan tubuh untuk terus bergerak, beradaptasi, dan bertahan.
Nah di sini saya mulai menemukan titik pencerahan. Jadi, yang dimaksudkan root (akar) itu adalah jagung yang pernah “berakar” dalam budaya Madura, namun kini berserakan seolah tak ada harganya sama sekali. Jagung dilempar-lembar, ditendang, diinjak-injak, dibuang, dan diperlakukan sembarangan. Jagung adalah “akat budaya” masyarakat Madura.
Apakah betul begitu? Nanti saya tuliskan ulasannya lebih panjang. Sabar yaa…. Nikmati dulu foto-fotonya.
(henri nurcahyo)
Bersambung