Agendaseni rupaTerbaru

Sihir ARTJOG yang Tak Tergantikan

no-img
Sihir ARTJOG yang Tak Tergantikan

Yogyakarta: Harus diakui, ARTJOG adalah fenomena hajatan pameran seni rupa kontemporer paling fenomenal di negeri ini. Pertama kali diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta pada tahun 2008 (dengan nama awal “Jogja Art Fair”), kali ini sudah menginjak tahun ke-19 (menuju perayaan dua dekade). ARTJOG sendiri sudah 10 tahun berturut-turut dilaksanakan di Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta sejak tahun 2016. Tempat di Gampingan ini sangat bersejarah karena pernah menjadi kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

Kesuksesan ARTJOG tak lepas dari tangan dingin Heri Pemad, seorang seniman sekaligus promotor seni rupa (art manager) yang visioner. Tak heran Pemad pernah diminta menyelenggarakan ARTBALI  untuk mengikuti jejak kesuksesan ARTJOG. Sayang sekali ARTBALI  hanya berlangsung 2 tahun (edisi 2018 dan 2019), dan setelah itu sempat tidak terdengar kabarnya akibat hantaman pandemi global.

Meskipun replikasi ARTJOG di luar daerah seperti ARTBALI   sempat menemui jalan terjal dan mati suri, magnet ARTJOG di tanah kelahirannya sendiri justru tidak pernah padam. Pada masa pembatasan ketat saat pandemi Covid 19, ketika perhelatan seni lain tiarap, ARTJOG membuktikan resiliensinya dengan tetap menggelar pameran secara daring. Dedikasi inilah yang membuatnya dijuluki sebagai “Hari Raya Seni Rupa Indonesia.” Setiap pertengahan tahun, puluhan ribu penikmat seni, kolektor, kurator, hingga wisatawan mancanegara berbondong-bondong memadati ruang pameran JNM, menciptakan efek domino yang menghidupkan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif Yogyakarta.

Kesuksesan ARTJOG lantas merangsang pihak-pihak lain di Yogyakarta untuk menyelenggarakan pameran serupa dalam waktu yang berhimpitan. Fenomena “Lebaran Seni Rupa Indonesia” itu kini bukan lagi hanya milik ARTJOG, melainkan telah menjadi pesta pora kebudayaan bagi kalangan pegiat dan pencinta seni rupa secara luas.

Ketika kali ini ARTJOG berlangsung selama 2,5 bulan—sejak 19 Juni hingga 30 Agustus—seluruh penjuru kota Yogyakarta seolah ikut terbangun dan bersolek. Sejumlah pameran seni rupa dan event lain yang turut diselenggarakan di Yogyakarta untuk menyemarakkan momentum ini.

Sebut saja Jogja Art Weeks (JAW): Juni – September 2026, sebuah platform publikasi bersama dan jaringan nirlaba yang menghimpun ratusan agenda seni di Yogyakarta dan sekitarnya. Melalui JAW, puluhan galeri independen, studio seniman, hingga ruang alternatif membuka pameran mereka secara simultan guna menyambut para kolektor dan wisatawan yang datang ke Jogja.

JAW kali ini akan berkolaborasi dengan Festicity, salah satu program yang diinisiasi oleh Forum Jogja Festival, untuk mengoptimalkan serta mempertegas keterhubungan festival yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya selama periode ARTJOG 2026. Sinergi dan kolaborasi ini merupakan upaya bersama untuk memperkuat jaringan, koneksi, dan interaksi melalui pendekatan budaya yang terus tumbuh dan membentuk ruang lingkup dinamika perkotaan hari ini.

Sementara di Pendhapa Art Space di Panggungharjo, Sewon, Bantul, tanggal 20 Juni hingga 20 Agustus 2026 diselenggarakan pameran kolaborasi  dua perupa alumnus FSR ISI (Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia) Yogyakarta: Nasirun dan Dunadi, dengan kurator Kuss Indarto. Nasirun adalah perupa dengan basis kreatif seni lukis. Namun pada perkembangannya dia banyak mengeksplorasi dan melakukan penjelajahan kreatif dan bereksperimen dengan material tiga timensi. Sementara Dunadi berasal dari Pandak, Bantul, D.I. Yogyakarta, lahir pada 5 Agustus 1960 adalah seniman   patung, karya-karyanya yang berukuran gigantik.

Bahkan sejak tanggal 6 Juni hingga 6 Juli diselenggarakan Pameran Seni Rupa dengan tema “Mata Hati Soekarno” diikuti oleh 47 pelukis, di Le Gareca Art Gallery, Kasihan, Bantul, DIY. Pameran di galeri milik Butet Kartaredjasa ini dibuka oleh Megawati Sukarnoputri, dan dihadiri oleh banyak tokoh nasional.

Efek simultan ini menciptakan atmosfer kota yang sangat magis. Selama kurun waktu 2,5 bulan tersebut, Yogyakarta berubah menjadi sebuah galeri raksasa tanpa dinding pemisah. Wisatawan tidak hanya datang untuk mengantre di Jogja National Museum (JNM) tempat ARTJOG berpijak, melainkan juga melakukan “ziarah seni” menyusuri gang-gang kecil di Bantul, Sleman, hingga Kota Gede demi menyaksikan pameran pinggiran (fringe exhibition) yang tidak kalah memukau.  Sinergi massal ini membuktikan bahwa ARTJOG telah sukses menjalankan perannya, bukan sebagai ego sentral, melainkan sebagai lokomotif utama yang menarik gerbong-gerbong kreatif lainnya di Yogyakarta.

Dan ternyata, riuhnya pameran tandingan dan acara pendukung ini tidak melemahkan ARTJOG. Sebaliknya, hal itu justru mempertegas posisi istimewa Yogyakarta: bahwa di kota ini, seni rupa telah mendarah daging menjadi denyut nadi, ekonomi, dan perayaan hidup masyarakatnya. Tidak salah jika Yogyakarta disebut Ibukota Seni Rupa Indonesia.

Ars Longa, Babak Baru

Memasuki babak baru tahun 2026, ARTJOG tidak lagi sekadar menjadi bursa seni rupa (Art Fair). Di bawah payung tema trilogi baru “Ars Longa”, pameran ini bertransformasi menjadi festival seni kontemporer yang inklusif melalui sub-tema perdana “Generatio”. Fokusnya kini bergeser pada peleburan sekat-sekat hierarkis melalui dialog lintas generasi, ruang ramah anak lewat ARTJOG Kids, serta integrasi teknologi digital dan isu ekologi.

Melalui konsistensi dan keberaniannya untuk terus mendobrak batas kreativitas, ARTJOG telah berhasil menempatkan Indonesia di peta seni rupa kontemporer dunia sekaligus membuktikan bahwa seni bukan hanya milik segelintir elite, melainkan ruang perayaan bersama yang terus hidup dan memperbarui diri.

Mengutip siaran pers panitia, tahun ini, ARTJOG mengundang Farah Wardani sebagai kurator untuk periode 2026–2028 dengan mengusung tema ARS LONGA Trilogia, yang berarti “Trilogi Seni Itu Panjang”. Tema besar ini dipilih sebagai interpretasi bahwa seni dipercaya sebagai bagian dari kehidupan yang terus relevan terhadap kondisi sosial, budaya, dan politik yang terus berubah.

ARTJOG 2026 mengawali seri pertama triloginya dengan tema ARS LONGA: GENERATIO dan secara khusus mengundang Roby Dwi Antono sebagai seniman komisi untuk menerjemahkan tema tersebut melalui karya pada fasad serta serangkaian patung dan ruang imersif. Untuk mempertegas gagasan tema, ARTJOG akan mempresentasikan karya dari 25 seniman undangan (individu dan kelompok) dan 19 seniman muda (berusia maksimal 35 tahun) yang lolos seleksi. Selain itu, sebanyak 52 seniman anak-anak dan remaja (usia 6-15 tahun) akan mempresentasikan karya hasil seleksi mereka dalam program ARTJOG Kids.

ARS LONGA: GENERATIO menawarkan dua pendekatan utama, yaitu Dialogus dan Practica. Pendekatan Dialogus mengutamakan dialog antargenerasi dan persoalan generasional yang direalisasikan melalui karya kolaboratif. Pendekatan ini ingin menunjukkan bagaimana para seniman telah memperluas perannya melalui jejaring yang mereka bangun, terutama bagi generasi yang lebih muda. Sementara Practica akan menghadirkan karya seniman individu yang mewakili beragam praktik seni dan berbagai isu, wacana, serta semangat zaman yang berkembang di generasi terkini.

Chapter Jogja, Unique Art Fair

Bersamaan dengan ARTJOG 2026, 19 –23 Juni 2026, juga diselenggarakan Chapter Jogja edisi kedua di kawasan SD Tumbuh dan JNM. Chapter Jogja adalah sebuah Unique Art Fair yang berangkat dari warisan Jogja Art Fair (JAF). Agenda ini melibatkan galeri regional dan internasional serta komunitas seni, dan  merupakan langkah penting untuk memosisikan kembali kawasan JNM sebagai pusat seni dan budaya, sekaligus mendorong ekosistem seni yang berkelanjutan dengan mempertemukan wacana seni kontemporer, ruang pasar, dan dinamika lingkungan perkotaan dalam satu peristiwa.

Pertama kali diselenggarakan pada 2025, Chapter Jogja lahir dari upaya membaca kembali semangat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan seni rupa Yogyakarta. Jika Jogja Art Fair dikenal sebagai sebuah Artist Art Fair yang membuka ruang distribusi karya dan perjumpaan antar pelaku seni, maka Chapter Jogja mengembangkan semangat tersebut ke dalam konteks yang lebih luas melalui format Unique Art Fair yang tidak hanya mempertemukan karya seni dan pasar, tetapi juga memperlihatkan ekosistem yang melahirkannya.

Pada edisi 2026, Chapter Jogja menghadirkan partisipasi galeri dan ruang seni dari berbagai wilayah, yaitu Nadi Gallery (Jakarta), ArtSociates (Bandung), Artemis Art Gallery (Kuala Lumpur), dan Telitu Art Space (Magelang). Kehadiran mereka mencerminkan beragam pendekatan dalam pengelolaan seni rupa kontemporer, mulai dari galeri dengan jejaring internasional hingga ruang seni independen yang tumbuh dari konteks lokal.

Sebagai Unique Art Fair, Chapter Jogja menawarkan cara lain untuk memahami art fair. Jika banyak art fair berfokus pada pertemuan antara karya dan pasar, maka Chapter Jogja berupaya mempertemukan karya, pasar, komunitas, pengetahuan, dan publik dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Melalui pendekatan tersebut, Chapter Jogja tidak hanya merayakan karya seni, tetapi juga merayakan jaringan manusia, gagasan, dan praktik kolektif yang memungkinkan seni rupa terus hidup dan berkembang.

Ignatia Nilu, Artistic Director Chapter Jogja, mengatakan: “Jika ekonomi konvensional berbicara tentang pertukaran barang, ekonomi seni berbicara tentang sirkulasi nilai. Karya seni memperoleh maknanya melalui percakapan, eksposur, jejaring, legitimasi, dan berbagai bentuk keterlibatan publik yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam konteks itulah Chapter Jogja hadir sebagai Unique Art Fair yang tidak hanya mempertemukan karya dengan pasar, tetapi memperkuat ekosistem yang memungkinkan nilai seni terus diproduksi, dipertukarkan, dan diwariskan.”

Seni Difabel

Program Love🤟ARTJOG juga mengundang praktisi seni difabel untuk mengeksplorasi minat dan praktik seni mereka di sejumlah komunitas seni di Yogyakarta. Kegiatan ini hadir atas kerja sama ARTJOG dengan Tab Space, sebuah lembaga sosial dari Bandung yang menyediakan platform bagi para seniman dan desainer difabel.

Selain itu, program Love🤟ARTJOG juga akan mengadakan pelatihan bagi para pelajar SD hingga SMA di masa libur pergantian tahun ajaran baru untuk berpartisipasi langsung dalam pendampingan kawan-kawan difabel di ruang pamer selama penyelenggaraan ARTJOG. Hal ini adalah upaya ARTJOG untuk mewujudkan ekosistem seni yang lebih inklusif.

Program The Others Lab tahun ini didukung oleh TACO Laminate Indonesia dan bekerja sama dengan Studio Banda (sebuah studio desain berbasis di Bali). Program ini mengajak publik membicarakan persoalan lingkungan dengan mengintegrasikan perspektif desain melalui metode eksperimen ke dalam kehidupan sehari-hari. Program ini akan dilengkapi dengan diskusi dan sejumlah lokakarya yang terbuka bagi pengunjung untuk mengeksplorasi material.

Selain itu juga bakal disajikan berbagai seni pertunjukan spesial dari Australia, Vietnam, Prancis),  serta rangkaian program selingan lainnya. (henri nurcahyo)

foto-foto dokumentasi panitia ARTJOG

In category: Agendaseni rupaTerbaru
Related Post
no-img
Sihir ARTJOG yang Tak Tergantikan

Yogyakarta: Harus diakui, ARTJOG adalah fenomena hajatan pameran seni rupa ...

no-img
Besut Goes to Jakarta, Tampil di Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan

SURABAYA: Meimura mendapat undangan tampil membawakan Besutan di Jakarta. N...

no-img
Ludruk Besutan Meimura: Kearifan Lokal yang Terlupakan

MOJOKERTO:  Melalui tema “Batu-batu Bersuara”, kita diajak mendengarka...

no-img
Besutan Masuk Kampus di Mojokerto

MOJOKERTO: Setelah tampil di empat kota, Ludruk Garingan “Besut Jajah Des...

no-img
Panggung Besutan Diserbu Anak-anak

NGANJUK: Pentas ludruk besutan oleh Meimura (Meijono) kali ini terasa seper...

no-img
Besutan Meimura “Sambang Putu” di Nganjuk

NGANJUK: Pentas keliling Ludruk Garingan Meimura (Meijono) kali ini akan be...

  • 7,212
  • 4