MEMBACA “ROOT” KARYA HARI GHULUR
Catatan Henri Nurcahyo (bagian kedua)
Sebuah terpal mengkilat warna kemerahan terlipat di tengah ruangan. Bagian tengahnya yang menonjol seperti menyembunyikan ada sesuatu di baliknya. Tiga orang bergantian masuk ke arena dari arah yang berbeda. Dua perempuan mengenakan busana sebatas dada, satu laki-laki berkain sarung agak pendek dan mengenakan baju lengan panjang. Mereka menjejak-jejakkan tungkai kakinya ke lantai, seakan menjajal apakah bumi masih kuat dijadikan pijakan. Ketiganya mengenakan topi petani, bergerak ke sana ke mari, sambil melontarkan kalimat yang diulang-ulang, seperti mantra, tentang jagung.
Itulah adegan awal pertunjukan Root karya Hari Ghulur di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Rabu malam (8/7/26). Hari Ghulur (nama aslinya Moh. Hariyanto, lahir 1986) adalah seorang koreografer, penari, dan akademisi tari asal Madura yang kini berkarya di Surabaya. Ia dikenal sebagai salah satu koreografer tari kontemporer Indonesia yang secara konsisten mengolah pengalaman tubuh, lanskap alam, dan budaya Madura sebagai sumber penciptaan artistiknya.
Pertunjukan ini adalah hasil produksi Sawung Dance Studio. Selain sebagai penari, Hari adalah juga koreografer dan penata musik. Tiga penari lainnya adalah: Errina Aprilyani. Adrin Shiera A. Umaldi, dan Angga I Tirta Agung. Sementara lighting designer ditangani oleh Rizki Ade Pradista dan Moch. Danuar.

Orang boleh tidak mengerti arti kalimat yang diulang-ulang itu, kecuali satu kata pertama, yaitu Jhâghung (jagung). Tapi pengulangan seperti itu mengingatkan pada mantra atau zikir. Pengulangan membuat bahasa kehilangan fungsi komunikatifnya dan berubah menjadi ritme. Dalam tradisi agraris Nusantara, pengulangan semacam ini lazim ditemukan dalam doa tanam, nyanyian panen, atau mantra pemanggil kesuburan. Kata “jagung” tidak lagi hanya menunjuk pada tanaman, tetapi berubah menjadi bunyi yang menghubungkan manusia dengan ingatan kolektif tentang tanah, musim, dan kehidupan.
Terus terang saya penasaran dengan kalimat tersebut. Dari rekaman yang saya buat, kira-kira tertangkap seperti bunyi: Jhâghung sakèccè’ bân kobbhiyâ’, sakagghung bân kobesâ. Jika betul seperti itu maka artinya adalah: Jagung yang kecil cukup ditutup tempurung (kobhiya’), yang besar harus ditutup besek/penutup yang lebih besar.
Makna kiasannya: setiap persoalan memerlukan penanganan yang sesuai ukurannya; setiap orang memperoleh perlakuan sesuai kapasitasnya; semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula perlindungan atau beban yang dibutuhkan.
Tapi apakah betul pertunjukan ini berkaitan dengan makna kalimat tersebut? Itu menjadi tidak penting. Apapun bunyi dan maknanya, yang jelas sebelum tubuh mulai bertarung dengan jagung dan terpal, penonton terlebih dahulu diajak memasuki sebuah dunia yang masih berupa kemungkinan: sesuatu yang belum lahir, namun sedang bersiap muncul dari dalam bumi.
Terpal kemerahan yang terlipat di tengah ruangan menjadi citra pertama yang sangat kuat. Lipatan yang menonjol di tengah menciptakan kesan adanya sesuatu yang belum tersingkap. Akar (root) memang selalu bekerja dalam keadaan tak terlihat. Ia tersembunyi di bawah tanah, tetapi justru dari sanalah kehidupan bertumbuh. Karena itu, adegan pembuka ini seolah mengajak penonton menatap apa yang berada di balik permukaan.
Kehadiran dua perempuan dan satu laki-laki juga dapat dibaca sebagai gambaran kerja kolektif dalam masyarakat tani, bahwa bercocok tanam bukanlah pekerjaan seorang diri, melainkan aktivitas bersama yang melibatkan seluruh anggota komunitas.
Gerakan mereka yang menjejak-jejakkan kaki ke lantai menyerupai tindakan seseorang yang sedang menguji pijakan. Seolah-olah mereka bertanya: apakah tanah ini masih mampu menopang kehidupan? Dalam konteks Madura, pertanyaan itu terasa sangat relevan. Tanah bukan sekadar media tanam, melainkan penentu hidup dan mati masyarakat. Ketika mereka terus menginjak lantai, tubuh sedang membangun kembali hubungan yang paling dasar antara manusia dan bumi.
Makna ini menjadi semakin penting jika dihubungkan dengan konsep yang disampaikan Hari Ghulur bahwa Root berangkat dari eksplorasi keseimbangan tubuh dalam kondisi yang tidak stabil. Sebelum ketidakstabilan benar-benar hadir melalui jagung yang berserakan, para pemain terlebih dahulu memastikan apakah pijakan itu sendiri masih dapat dipercaya. Mereka sedang mencari keseimbangan paling awal: hubungan tubuh dengan tanah.
Topi petani itu bukan hanya atribut profesi. Ia adalah simbol pengetahuan lokal, pengalaman turun-temurun, dan kehidupan yang berakar pada alam. Dalam banyak kebudayaan agraris, petani bukan hanya penghasil pangan, melainkan penjaga hubungan manusia dengan bumi. Karena itu, kehadiran topi petani mengisyaratkan bahwa yang akan dipertontonkan bukan semata-mata kisah tentang jagung, melainkan tentang sebuah peradaban.
Dengan demikian, pembukaan root tidak sedang bercerita tentang jagung sebagai komoditas ekonomi. Jagung dihadirkan sebagai akar identitas masyarakat Madura. Ketika mantra itu terus diulang-ulang, seakan-akan para pemain sedang memanggil kembali sesuatu yang mulai terlupakan: hubungan manusia dengan tanah yang selama ini menopang hidup mereka.

Ketika Terpal Tersibak
Kemudian, satu demi satu pemain menyibak ujung-ujung terpal. Karena hanya bertiga, salah seorang di antaranya harus bergantian memegang dua sudut agar terpal itu dapat terbentang sempurna. Apakah komposisi tiga tubuh ini sekadar kebutuhan artistik, atau menyimpan tafsir tertentu? Pertanyaan itu biarlah menggantung, sebab pertunjukan tidak pernah memberikan jawaban yang pasti.
Ketika terpal biru mengilap itu akhirnya terbentang, sebuah pemandangan yang semula tersembunyi pun tersingkap. Di tengah hamparan terpal tampak seorang lelaki duduk bersila, tubuhnya membungkuk ke arah penonton. Kepalanya yang tertutup caping menunduk hingga menyentuh lantai, seolah sedang bersujud kepada bumi. Di sekelilingnya berserakan bonggol-bonggol jagung, membentuk lanskap yang sekaligus terasa akrab dan ganjil.
(Bisa dibayangkan, sejak pintu ruangan belum dibuka, hingga beberapa menit tiga pemain menari, lelaki ini harus bertahan di dalam tutupan terpal)
Pemandangan itu segera melemparkan ingatan saya kepada Pulau Madura: sebidang tanah yang dikelilingi lautan, tempat jagung sejak lama menjadi bagian penting dari denyut kehidupan masyarakatnya. Terpal biru mengilap seolah menjelma lautan yang mengepung pulau, sementara hamparan jagung di tengahnya menjadi penanda sebuah peradaban agraris yang tumbuh di atas tanah yang keras dan kering. Tubuh lelaki yang membungkuk di tengah-tengahnya menghadirkan kesan seorang manusia yang sedang berhadapan dengan akar kehidupannya sendiri.
Tak lama kemudian, dari langit-langit arena perlahan turun sebuah lampu petromaks yang telah menyala. Lampu itu berhenti tepat di atas kepala lelaki tersebut, seolah menjadi pusat perhatian seluruh ruang pertunjukan. Kehadirannya mula-mula menghadirkan suasana pedesaan pada malam hari, ketika petromaks menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menemani kehidupan warga. Namun melalui bidikan kamera, nyala lampu itu justru memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan, menyerupai matahari yang sedang mencapai puncaknya. Seperti matahari tepat menggantung di atas ubun-ubun, memancarkan terik tanpa ampun.

Dalam sekejap, ruang pertunjukan seolah berubah menjadi hamparan ladang jagung di Madura, ketika siang sedang berada pada puncaknya dan panas memaksa setiap tubuh untuk menguji daya tahan, keseimbangan, serta kemampuannya bertahan hidup.
Tetapi bisa jadi, ada satu tafsir visual yang sangat menarik pada adegan ini: terpal biru bukan hanya laut, tetapi juga langit. Ketika petromaks turun dari atas dan cahaya jatuh tepat di tengah terpal, penonton seperti melihat lanskap Madura dari sudut pandang yang terbalik: langit di atas, laut di bawah, dan manusia berada di antara keduanya. Tafsir ini sangat selaras dengan tema Root, yaitu manusia yang terus mencari pijakan di tengah dunia yang tidak pernah benar-benar stabil.
Perlahan lelaki itu menegakkan punggungnya. Sebuah sarung polos tersampir di leher, menjuntai menutupi sebagian dadanya yang telanjang. Kedua telapak tangannya terbuka, bertumpu di atas lutut, menghadirkan kesan seseorang yang sedang bermeditasi atau memusatkan kesadaran. Sesaat ia diam, membiarkan ruang dipenuhi keheningan yang justru terasa semakin tegang.
Kemudian ia berdiri. Barulah tampak bahwa sarung yang menggantung di lehernya bukan sekadar sehelai kain. Di dalamnya tersimpan bonggol-bonggol jagung. Dengan kedua tangannya ia mulai mengayunkan bungkusan itu. Mula-mula perlahan, lalu semakin cepat. Diputar ke kanan dan ke kiri, diayunkan membentuk lingkaran-lingkaran yang menguasai ruang. Sedikit demi sedikit bonggol-bonggol jagung meluncur keluar dari balik lipatan sarung, berhamburan ke segala penjuru arena. Satu demi satu terlepas, hingga akhirnya seluruh isi sarung tumpah ke atas hamparan terpal biru.
Adegan itu menghadirkan citra yang ambigu. Sarung yang lazim dikenakan sebagai busana sehari-hari masyarakat Madura seketika berubah menjadi lumbung, menjadi wadah yang menyimpan hasil bumi sekaligus sumber kehidupan. Namun ketika isinya dihamburkan ke lantai, jagung tidak lagi tampak sebagai hasil panen yang dihormati, melainkan sebagai benda-benda yang tercerai-berai, kehilangan tempatnya.
Setelah benar-benar kosong, sarung itu dikenakan sebagaimana mestinya. Lelaki itu pun mulai menari. Kakinya melangkah di atas bonggol-bonggol dan butir-butir jagung yang memenuhi permukaan terpal. Setiap pijakan menghasilkan bunyi berderak yang khas, mempertegas hubungan langsung antara tubuh dan material yang diinjaknya. Tubuhnya terus mencari keseimbangan di atas permukaan yang tidak lagi stabil. Jagung yang semula menjadi sumber kehidupan kini justru berubah menjadi medan yang mempersulit setiap langkah.

Perlahan lelaki itu meninggalkan arena. Tiga pemain yang sejak awal membuka pertunjukan kembali memasuki ruang. Mereka segera mengambil alih gerak, menari di atas hamparan jagung yang kini memenuhi hampir seluruh panggung. Langkah-langkah mereka semakin cepat, semakin dinamis, mengacak bonggol-bonggol jagung ke segala arah. Nyaris tak ada sejengkal bidang yang luput dari injakan kaki. Jagung terus berguling, terpental, dan berserakan, berubah dari hasil panen yang dahulu disimpan dengan penuh penghormatan menjadi lanskap yang terus-menerus diganggu oleh tubuh manusia.
Di titik inilah pertunjukan mulai menghadirkan paradoks yang menarik. Jika pada awal pertunjukan jagung dipanggil melalui mantra sebagai akar kehidupan masyarakat Madura, kini akar itu justru diinjak, dihamburkan, bahkan dijadikan medan permainan tubuh. Barangkali inilah pertanyaan yang hendak diajukan Hari Ghulur kepada penontonnya: apakah jagung masih menempati kedudukan yang sakral dalam kehidupan masyarakat Madura, ataukah ia telah bergeser menjadi sekadar komoditas yang kehilangan nilai simboliknya? Pertunjukan tidak menawarkan jawaban. Ia hanya memperlihatkan tubuh-tubuh yang terus bergerak di atas jagung yang berserakan, sementara penonton dipersilakan menyusun tafsirnya sendiri.
(bersambung)