ReportaseSeni TariTerbaru

KARYA “ROOT” HARI GHULUR: DEHUMANISASI DI HAMPARAN JAGUNG

no-img
KARYA “ROOT” HARI GHULUR: DEHUMANISASI DI HAMPARAN JAGUNG

Catatan Henri Nurcahyo (bagian 3 – habis)

 

Di atas hamparan terpal biru, tiga orang petani menari di antara bonggol dan butir-butir jagung yang berserakan. Kaki-kaki mereka menginjak, menyeret, dan menghamburkan jagung, seolah sedang mengolah tanah sekaligus mengacak-acaknya. Musik ritmis yang telah mengalun sejak awal pertunjukan menjadi denyut yang terus-menerus menghentak. Iramanya sederhana, nyaris monoton, namun justru menciptakan energi yang merambat ke seluruh ruang. Tubuh para penari bergerak dalam pola yang berulang-ulang, hingga tanpa disadari penonton ikut terbawa, seakan tubuh mereka sendiri ingin larut dalam irama itu.

Tiba-tiba seluruh gerak berhenti.

Dari salah satu sudut panggung melayang sebuah bonggol jagung yang segera disambut seorang penari. Sosok itu merangkak dengan kedua tangan dan kaki, mengendus-endus, bergerak lincah namun waspada. Apakah ia seekor binatang? Seekor anjing? Ataukah hanya manusia yang perlahan kehilangan kemanusiaannya?

Dalam pertunjukan Root karya Hari Ghulur yang dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (8 Juli 2026), sosok itu diperankan seorang lelaki bertelanjang dada dengan celana pendek. Topi petani dikenakannya menutupi wajah sehingga membentuk moncong binatang, menghapus identitas manusianya dan menghadirkan figur yang menggantung di antara manusia dan hewan.

Salah seorang petani kemudian mengulurkan bonggol jagung sebagai umpan. Sosok itu mendekat perlahan, tertarik oleh makanan yang dijanjikan. Namun setiap kali hampir berhasil meraihnya, bonggol jagung itu ditarik kembali. Ia dipancing, digoda, dipermainkan. Kejar-mengejar pun terjadi, berputar di sela-sela dua petani lainnya yang terus mengawasi, seperti sedang mengurung mangsanya.

Tak lama kemudian, ketiga petani itu serempak menangkapnya. Tubuhnya diangkat beramai-ramai. Kedua tangan dan kakinya dipegang erat, lalu diayun-ayunkan. Sesaat kemudian tubuh itu ditegakkan di atas pundak mereka, diangkat tinggi, dibentangkan ke berbagai arah, dibalikkan, lalu dilemparkan ke lantai. Adegan itu menghadirkan kesan yang ganjil: antara permainan, perburuan, ritual, dan kekerasan.

Namun perubahan yang sesungguhnya justru terjadi setelahnya.

Tanpa terasa, ketiga petani itu sendiri perlahan kehilangan batas sebagai manusia. Gerak mereka berubah. Tubuh-tubuh yang semula tegak kini merunduk, meloncat, merangkak, dan mengendus seperti makhluk liar. Kini bukan lagi satu binatang yang hadir di panggung, melainkan empat. Mereka bergerak dalam naluri yang sama, saling mengikuti, saling meniru, tanpa lagi tampak siapa pemburu dan siapa yang diburu.

Di atas terpal biru yang penuh serpihan jagung, manusia seakan telah lenyap. Yang tersisa hanyalah makhluk-makhluk yang bergerak mengikuti insting. Mereka tidak lagi memikirkan harga jagung, musim tanam, atau kapan hujan akan turun. Mereka hanya bergerak tanpa tujuan yang pasti, seolah sedang mencari kembali hubungan purba dengan alam yang selama ini memberi kehidupan, tetapi pada saat yang sama juga membatasi dan menguji keberadaan mereka sendiri.

Tanah Madura tetap diam menyaksikan semuanya. Tanah yang keras, kering, dan akrab dengan musim yang tak menentu itu seolah menyerap seluruh transformasi tersebut tanpa suara. Dalam bentang alam seperti itulah manusia terus dipaksa beradaptasi. Ketika daya hidup diuji tanpa henti, barangkali yang perlahan berubah bukan hanya cara mereka bertahan hidup, melainkan juga naluri yang menggerakkan tubuh dan kesadaran mereka.

Untungnya kejadian ini tidak berlangsung lama. Dua petani telah kembali ke ujudnya semula sebagai manusia. Namun satu orang yang masih berujud binatang, segera ditangkap dan dilemparkan ke tanah.  Hingga kemudian semuanya kembali jadi manusia.

Tapi, benarkah binatang itu memang anjing? Tidak ada dasar budaya yang kuat untuk mengatakan bahwa anjing merupakan simbol utama atau pengganggu masyarakat Madura. Bahkan, dalam banyak wilayah Madura, anjing relatif jarang dipelihara karena faktor budaya dan alasan religius.

Barangkali di situlah letak kekuatan Root. Pertunjukan ini tidak pernah menjelaskan secara gamblang binatang apa yang sedang dihadirkan di atas panggung. Sosok itu dibiarkan tetap ambigu, sehingga perhatian penonton tidak berhenti pada jenis binatangnya, melainkan pada proses perubahan yang dialami tubuh-tubuh para pemain. Pada awalnya, manusia tampil sebagai pihak yang menguasai. Mereka memancing, mempermainkan, lalu menangkap makhluk yang dianggap lebih rendah. Namun perlahan relasi itu berbalik. Tanpa disadari, mereka sendiri bergerak dengan cara yang sama, hingga batas antara manusia dan hewan menjadi kabur. Tidak ada lagi pemburu dan buruan; yang ada hanyalah makhluk-makhluk dengan naluri yang serupa.

Transformasi menjadi binatang di sini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan manifestasi dari “akar tubuh” yang mencapai titik ekstrem. Tanah Madura tetap sunyi, menyerap perubahan itu dalam diam, seolah-olah memang begitulah takdir bagi mereka yang terlampau keras ditempa oleh tanah yang haus air. Ketika manusia kehilangan segalanya—bahkan bentuk manusianya—mereka justru kembali ke bentuk yang paling murni: menyatu dengan tanah yang mereka garap.

Perubahan itu dapat dibaca sebagai metafora tentang dehumanisasi. Kehidupan yang terus-menerus ditempa oleh kerasnya alam, ketidakpastian panen, dan rapuhnya harapan membuat manusia sedikit demi sedikit digerakkan bukan lagi oleh akal budi, melainkan oleh naluri paling dasar untuk bertahan hidup. Dalam keadaan seperti itu, kemanusiaan tidak hilang seketika, melainkan terkikis perlahan oleh desakan hidup yang tak pernah benar-benar selesai.

Pada saat yang sama, sosok binatang itu sesungguhnya dapat dibaca sebagai cermin petani sendiri. Ia terus dipancing oleh janji-janji: panen yang melimpah, harga jagung yang membaik, atau kesejahteraan yang terasa selalu berada sedikit di depan. Harapan itu dikejar tanpa henti, tetapi berkali-kali pula menjauh ketika hampir tergenggam. Binatang yang mengejar bonggol jagung itu akhirnya bukan lagi sosok lain, melainkan bayangan dari kehidupan petani itu sendiri.

Di sinilah judul Root menemukan maknanya. Akar bukan sekadar menunjuk pada jagung sebagai tanaman atau tanah sebagai ruang hidup, melainkan juga pada lapisan paling purba dalam diri manusia. Ketika seluruh lapisan sosial, ekonomi, dan kebudayaan terkelupas oleh kerasnya kehidupan, yang tersisa adalah naluri dasar untuk tetap hidup. Dalam pengertian itu, perubahan para petani menjadi makhluk yang lebih naluriah bukanlah kemunduran, melainkan perjalanan kembali ke akar kehidupan, ketika manusia masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari alam.

Karena itu, sosok “binatang” dalam pertunjukan ini tidak perlu dipastikan sebagai anjing atau jenis hewan tertentu. Justru ketidakjelasan itulah yang membuka ruang tafsir. Ia dapat menjadi binatang apa saja, sekaligus menjadi sisi liar yang selalu berdiam di dalam diri manusia—naluri yang setiap saat dapat muncul ketika kehidupan memaksa manusia kembali kepada akar paling purba keberadaannya.

Kritik Terhadap Kondisi Manusia Modern

Pada akhirnya, terpal biru yang sejak awal menjadi lantai kehidupan para petani ditarik ke belakang dan ditegakkan menjadi semacam dinding. Ruang pertunjukan berubah secara drastis. Sesuatu yang semula menjadi tanah kini menjelma jadi batas. Meski tidak semuanya, hanya separuh. Alam yang tadinya dipijak berubah menjadi penghalang. Perubahan orientasi ini dapat dibaca sebagai perubahan relasi manusia dengan lingkungannya. Tanah tidak lagi menjadi ruang hidup yang akrab, melainkan sesuatu yang menghadang dan memisahkan.

Bonggol-bonggol jagung yang dilemparkan ke arah “tembok” itu pun tidak lagi berfungsi sebagai hasil panen atau sumber pangan. Ia berubah menjadi proyektil yang menghantam dinding tanpa pernah menembusnya. Ada kesan sia-sia, seolah seluruh kerja keras petani berakhir pada sebuah batas yang tak mampu mereka lewati. Jagung kehilangan nilai gunanya; ia hanya menjadi benda yang dilempar, sebagaimana sejak awal pertunjukan jagung juga diinjak-injak dan dihamburkan.

Di depan dinding itu, sosok yang sebelumnya tampil sebagai “anjing” justru menari dengan penuh kegembiraan. Ia melompat-lompat mengikuti setiap lemparan jagung. Di sinilah ironi itu muncul. Bila sebelumnya manusia mempermainkan binatang dengan bonggol jagung, kini binatang itu seolah menemukan dunianya sendiri. Ia tidak lagi mengejar hasil, melainkan menikmati gerak itu sendiri. Yang tersisa bukan lagi logika produksi, melainkan permainan naluri.

Adegan ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap kondisi manusia modern. Ketika hasil kerja kehilangan makna, ketika panen tidak lagi menjamin kesejahteraan, manusia berisiko hidup hanya untuk bereaksi terhadap rangsangan-rangsangan sesaat. Mereka bergerak, mengejar, meloncat, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke mana pun. Gerak menjadi tujuan itu sendiri.

Jika dikaitkan dengan judul Root, adegan ini juga bisa dimaknai sebagai pertanyaan yang sengaja diajukan Hari Ghulur: apa yang sebenarnya masih dapat disebut “akar” ketika hubungan manusia dengan tanah telah berubah? Tanah telah menjadi dinding, jagung telah kehilangan nilai simboliknya sebagai sumber kehidupan, dan manusia yang telah kembali ke wujudnya ternyata masih membawa naluri yang sama seperti ketika ia menjadi binatang. Artinya, transformasi itu sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai. Binatang itu bukan sosok yang datang dari luar, melainkan sesuatu yang tetap hidup di dalam diri manusia.

Tentu saya justru akan berhati-hati untuk tidak memaksakan satu makna tunggal. Kekuatan adegan ini terletak pada sifatnya yang terbuka. Namun bila seluruh pertunjukan dibaca sebagai satu kesatuan, saya melihat benang merahnya adalah pergeseran relasi antara manusia, alam, dan hasil kerja. Tanah berubah menjadi tembok, jagung berubah menjadi benda yang dilempar, dan manusia berubah menjadi makhluk yang bergerak mengikuti naluri. Itulah mungkin “akar” yang hendak dipersoalkan oleh Root: ketika akar kehidupan tercerabut, apakah yang masih tersisa dari kemanusiaan?

Pada akhirnya, karya ini mengajak kita merenung: apakah ketika manusia terlepas dari identitas sosialnya, mereka akhirnya benar-benar “berakar” pada alam, atau justru mereka telah melampaui batas kemanusiaan itu sendiri untuk menjadi bagian dari liarnya padang yang selama ini memenjarakan mereka?

Usai pementasan, digelar diskusi dengan narasumber Hari Ghulur dan para penari. Satu kalimat Hari yang layak digarisbawahi, bahwa dalam kehidupan masa kecilnya memang sudah terbiasa makan nasi jagung. Bisa menikmati makan nasi putih adalah sesuatu yang sangat langka. Namun ketika zaman sudah berkembang, ternyata jagung bukan menjadi simbol kemiskinan. Jagung bisa diolah menjadi popcorn. Bahkan nasi jagung menjadi makanan alternatif yang sehat, rendah kadar gulanya.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dijelaskan. Sebagaimana dikatakan Roland Barthes dalam esainya berjudul The Death of the Author (La mort de l’auteur): “ketika karya lahir, pengarang telah mati.” Karena itu, ketika seseorang bertanya kepada seniman, “Apa sebenarnya makna karya ini?”, jawaban sang seniman bukanlah satu-satunya kebenaran. Tafsir penonton, pembaca, atau pengamat memiliki legitimasi yang sama selama didasarkan pada pembacaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam perspektif Barthes, begitu pertunjukan dipentaskan, karya itu telah memasuki ruang publik. Maknanya tidak lagi dimonopoli oleh penciptanya, melainkan lahir melalui dialog antara pertunjukan dan pengalaman setiap penontonnya.

Selesai

 

In category: ReportaseSeni TariTerbaru
Related Post
no-img
KARYA “ROOT” HARI GHULUR: DEHUMANISASI DI HAMPARAN JAGUNG

Catatan Henri Nurcahyo (bagian 3 – habis)   Di atas hamparan ter...

no-img
MEMBACA “ROOT” KARYA HARI GHULUR

Catatan Henri Nurcahyo (bagian kedua)   Sebuah terpal mengkilat warna ...

no-img
ROOT, EKSPLORASI JAGUNG DI ATAS TERPAL

(bagian satu) Hariyanto alias Hari Ghulur menyajikan karya baru, namanya Ro...

no-img
Sihir ARTJOG yang Tak Tergantikan

Yogyakarta: Harus diakui, ARTJOG adalah fenomena hajatan pameran seni rupa ...

no-img
Besut Goes to Jakarta, Tampil di Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan

SURABAYA: Meimura mendapat undangan tampil membawakan Besutan di Jakarta. N...

no-img
Ludruk Besutan Meimura: Kearifan Lokal yang Terlupakan

MOJOKERTO:  Melalui tema “Batu-batu Bersuara”, kita diajak mendengarka...

  • 7,752
  • 11