ProfilTerbaru

Meimura, Cak Besut dari Surabaya

no-img
Meimura, Cak Besut dari Surabaya

Catatan Henri Nurcahyo

 

BESUT itu nama tokoh seni pertunjukan rakyat Besutan dari Jombang, Jawa Timur. Kini seorang Meimura mengidentikkan dirinya dengan Cak Besut. Cak adalah panggilan akrab buat laki-laki Surabaya. Dari namanya bisa diduga, lahirnya bulan Mei, tepatnya tanggal 16 tahun 1963 dengan nama asli Meijono.

“Kakek mengubah nama saya menjadi Meimura agar tidak sakit-sakitan,” tuturnya.

Kok tidak balik nama sekalian? “Tidak boleh kakek,” tambah anak pertama dari empat bersaudara ini.

Arek (anak) kelahiran kampung Petemon ini sejak kecil memang sudah akrab dengan ludruk dan seni pertunjukan rakyat. Selama puluhan tahun dia menjelajah berbagai lakon teater sebagai pemain, penulis naskah, sutradara, bahkan menjadi penata lampu hingga penata artistik dan berguru ke Australia. Kemampuannya sebagai aktor dibuktikan dengan pentas monolog ke puluhan kota di Indonesia.

Hingga kemudian, panggilan jiwanya kembali pada ludruk. Kelompok ludruk Irama Budaya yang sebelumnya nggedhong (pentas permanen di sebuah gedung) tak bisa meneruskan aktivitasnya, vakum sekian lama. Maka Mei berinisiatif mengaktifkannya kembali dengan nggedhong di kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) yang pernah terkenal namun lama tak terurus. Mei membenahi manajemennya, menulis naskah, dan menjadi sutradara. Mengganti namanya menjadi Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara (IBSN). Pementasan yang ditampilkan bukan hanya memainkan lakon-lakon ludruk konvensional melainkan membawakan naskah-naskah teater modern yang dikemas dengan gaya ludrukan.

Kelompok ludruk yang semula dipimpin oleh Sakiyah itu berkembang pesat. Jejaring Mei yang luas menjadikan kalangan yang selama ini nyaris tak tersentuh lantas berinteraksi dengan berbagai bentuk kontribusi. Ada yang menggiring anggotanya menonton ludruk, mengajak tamu-tamu asing, mahasiswa dan dosen ikut menonton. Bahkan ada beberapa dosen yang ikut bermain seni di panggung kesenian rakyat khas Jatim ini. Hingga kemudian lahir kelompok ludruk anak-anak, kelompok ludruk pelajar dan mahasiswa.

Namun apa daya, tiba-tiba sebuah surat datang dari pemerintah kota. Gedung ludruk harus dikosongkan. THR hendak direnovasi, dibangun lebih bagus dibandingkan dulu, katanya. Ternyata itu hanya janji kosong. Kelompok ludruk yang mulai banyak penggemar itu harus terusir dari habitatnya. Puluhan pemain terlunta-lunta menantikan janji manis yang tertiup angin.

“Lama-lama saya berpikir, bukankah saya sering monolog, dan tokoh Besut juga bermonolog. Maka Besutan adalah solusi untuk menggabungkan antara monolog dan ludrukan. Dan ini juga mengingatkan bahwa kota Surabaya perlu punya ludruk yang bagus. Karena ludruk menjadi bagian dari peristiwa perjuangan kita meraih kemerdekaan. Itulah yang membedakan ludruk dengan Kabuki di Jepang dan lainnya,” pendiri Teater Ragil Surabaya ini.

Maka sutradara terbaik Lomba Ludruk se-kota Surabaya (1984) ini memerankan dirinya sebagai Besut. Bermain tunggal di banyak kota, banyak kesempatan, diundang atau tidak diundang. Bahkan sejak April yang lalu, penerima penghargaan sebagai Pelestari Tradisi dan Kreator Seni Teater dari Gubernur Jawa Timur ini (2017) mencanangkan pentas keliling Besutan ke 10 kota di Jatim dengan nama “Besut Jajah Deso Milangkori.”

Besut sebagai tokoh sentral dalam pertunjukan Besutan merupakan figur yang pas untuk memaksimalkan potensi keaktorannya tanpa tergantung adanya grup teater. Lagi pula, Besutan sebagai bentuk kesenian tradisi juga mewadahi kecintaan Meimura terhadap kesenian tradisi, khususnya ludruk. Maka menjadi Besut dalam Besutan bagi Meimura ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui.

Besutan merupakan seni tutur yang lentur, bersumber dari kegelisahan rakyat, dan tampil dengan gaya rakyat; tanpa panggung megah, tanpa protokol seni. Dengan Besut yang menapak dari satu ruang ke ruang lain, akan tumbuh kembali kesadaran bahwa panggung tak selalu butuh gemerlap, bahwa pertunjukan bisa lahir dari tanah dan tawa rakyat sendiri. Ia akan menjadi pemantik. Bukan hanya pertunjukan, tapi kebangkitan rasa percaya diri para seniman lokal, terutama generasi muda.

Kini, ludruk sendiri di banyak daerah menjadi kesenian yang langka, terhimpit oleh waktu, digerus oleh arus hiburan modern, dan perlahan menghilang dari ingatan generasi muda. Lebih menyedihkan lagi, Besutan, yang merupakan cikal bakal Ludruk, juga tak lagi dikenali. Padahal, di dalam tubuh ludruk, roh besutan masih hidup: dalam kelucuan yang cerdas, dalam spontanitas panggung, dalam keberanian menyentil realitas dengan jenaka. Dan di pusat semua itu, berdiri satu tokoh ikonik: Besut.

Karena keberadaan grup ludruk di Jawa Timur ini makin lama makin menipis. Yang ada sekarang ini hanya beberapa saja. Itupun sebagian besar ada di Jombang dan Mojokerto saja. Diharapkan di kota-kota yang disambangi Meimura menjadikan ludruk bisa tumbuh, hidup, dan berkembang lagi. Jangan lagi beralasan tidak bisa pentas karena tidak ada gedung, tidak pernah ditanggap, dan sebagainya. Karena meski kali ini Meimura mendapatkan bantuan dari Kementerian Kebudayaan, namun sebelumnya Mei sudah teramat sering melakukan hal yang serupa secara swadaya di banyak sekali kesempatan dan tempat. Semuanya gratisan. Justru gerakan yang dilakukan Meimura ini untuk membangun optimisme bahwa ludruk masih bisa menyala dan hidup meski dengan segala keterbatasan. (hnr)

BIODATA:

Nama : Meijono/Meimura

Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 16 Mei 1963

Alamat : Perum Gunung Anyar XIV Blok G-2, Surabaya

Telepon : 0813-5781-1880

Email : [email protected]

Pendidikan Formal : SD, SMP, SMA, di Surabaya.

Perguruan Tinggi : di Pekanbaru, tidak selesai.

 

Pengalaman : Mendirikan group lawak Boneka (1980);  teater anak ’Citra’ (1981); kelompok ludruk ‘Monthero’ (1982);  Teater Ragil Surabaya (1985);  Pengurus di Dewan Kesenian Jawa Timur (1988 sd 2018);  Membina Ludruk Irama Budaya Nusantara Surabaya, sebagai penulis cerita dan sutradara (2011-2018 ); mendirikan Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) tahun 2019.

Aktor dalam naskah “Adu Domba” muhibah Seniman Jatim ke tiga negara, Singapura, Malaysia, Thailand; Pentas Monolog “Satu Cinta” di Teater Utan Kayu Jakarta (2001):  Pentas monolog, “Lingkaran” acara pesta Aktor Indonesia, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (2002):  ü2009 : Pentas di Brunei Darussalam dengan naskah karya Ikwan Setiawan, judul “Kidung Sunyi Seorang Perempuan.”

Ludruk Garingan “Besut Rusmini Sambang Pasar bagi masker, tiap Pasar tradisional minim 200 Masker, 50 Pasar lebih di Surabaya, dan dilakukan 2×3 kali.

– Besut keliling Kampus, Sanggar, Cafe dan Forum” Kesenian.

– Pentas Monolog “Cancut Tali Wondo” di rumah Gununganyar

ü2021 : Pentas wayang suket bertema Pemuda Adalah Hati dan Pikiran Rakyat, di halaman Warung Joglo Merah Putih, Jl. Dr. Ir. H. Soekarno Surabaya

– Monolog “Polah Tanpa Aran,” di area arca Joko Dolok, Surabaya.

ü2025 : Monolog 19 Tahun Lumpur Lapindo, Sanggar S. Karno, Wunut, Porong

– Utara Bergerak: Workshop Penulisan Puisi, Teater Monoplay, Musikalisasi Puisi, Pembacaan Puisi.

– Monolog Pancasila di Panggung Rakyat

– Pertunjukan Ludruk Garingan di Monumen Gubernur Soeryo Surabaya

– Besut – Rusmini Sambang Sinambang: IFI Surabaya

– Monolog “Besut Tulak Balak”  40 Tahun Bengkel Muda Surabaya (BMS) di Balai Pemuda Surabaya

 

Naskah Drama TV yang ditulis: Radio; Petang di Sawah; Wira Yudha; Setapak; Pembalak; Tresno labuh Negoro (Saduran); Gali dll.

Prestasi:

-1977:  Aktor terbaik Lomba drama Pelajar sekodya Surabaya.

-1980 :  Sutradara  dan aktor terbaik  Lomba Drama Pelajar Sekodya Surabaya.

-1984 :  Sutradara terbaik Lomba Ludruk se-Kodya Surabaya.

-1985 : Sutradara – Penata artistik terbaik, Lomba drama diselenggarakan Jawa Pos.

-1988 : Peserta terbaik ke 2 Lomba Drama Lima Kota atas nama Teater Ragil Surabaya.

-2017 : Penghargaan sebagai Pelestari Tradisi dan Kreator Seni Teater dari Gubernur Jawa Timur.

-2018 : Penghargaan sebagai Tokoh Daerah Bidang Seni Budaya dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur

-2022 : Penghargaan sebagai penyusun Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Surabaya, dari Walikota Surabaya

 

In category: ProfilTerbaru
Related Post
no-img
Meimura, Cak Besut dari Surabaya

Catatan Henri Nurcahyo   BESUT itu nama tokoh seni pertunjukan rakyat ...

no-img
Besutan Tampil Bersama Seni Pertunjukan India

SURABAYA — Kesenian Besutan dari Surabaya akan tampil dalam ajang Seminar...

no-img
KARYA “ROOT” HARI GHULUR: DEHUMANISASI DI HAMPARAN JAGUNG

Catatan Henri Nurcahyo (bagian 3 – habis)   Di atas hamparan ter...

no-img
MEMBACA “ROOT” KARYA HARI GHULUR

Catatan Henri Nurcahyo (bagian kedua)   Sebuah terpal mengkilat warna ...

no-img
ROOT, EKSPLORASI JAGUNG DI ATAS TERPAL

(bagian satu) Hariyanto alias Hari Ghulur menyajikan karya baru, namanya Ro...

no-img
Sihir ARTJOG yang Tak Tergantikan

Yogyakarta: Harus diakui, ARTJOG adalah fenomena hajatan pameran seni rupa ...

  • 8,184
  • 10